Anindita Adhika Oeij
Bagian Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN SINDROM KORONER AKUT PASCA-PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG Mardiana Tri Marwasari; Anindita Adhika Oeij; Limdawati Kwee
Sound of Health Journal Vol 1 No 3 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sindrom koroner akut (SKA) merupakan salah satu penyebab utama kematian global yang dapat memengaruhi kualitas hidup pasien. PCI (percutaneous coronary intervention) adalah prosedur invasif yang bertujuan untuk meringankan vasokontriksi pembuluh darah sehingga dapat memperlancar aliran darah dan suplai oksigen ke otot jantung. Terapi PCI banyak dipertimbangkan karena terbukti efektif dalam mengobati pasien SKA. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kualitas hidup pasien SKA setelah menjalani tindakan PCI di Rumah Sakit Immanuel Bandung. Penelitian dilakukan secara observasional deskriptif dengan desain potong lintang, melibatkan 76 pasien SKA pasca-PCI yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Seattle Angina Questionnaire-7 (SAQ-7) dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien yang diobservasi memiliki kualitas hidup yang sangat baik, dengan 64,5% menunjukkan keterbatasan fisik yang minimal, 63,6% tidak mengalami angina, dan 98,7% memiliki kualitas hidup secara keseluruhan yang sangat baik. Penelitian ini menegaskan bahwa tindakan PCI efektif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien SKA, meskipun masih terdapat sejumlah pasien yang mengalami angina berulang akibat faktor struktural atau fungsional.   Kata kunci: Sindrom Koroner Akut; Percutaneous Coronary Intervention; Kualitas Hidup; Seattle Angina Questionnaire-7
GAMBARAN USIA DAN JENIS KELAMIN PASIEN STEMI/NSTEMI BERDASARKAN PARADIGMA OMI/NOMI DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG TAHUN 2023 DAN 2024 Susanti; Sherina; Anindita Adhika Oeij; Edwin Setiabudi
Sound of Health Journal Vol 2 No 1 (2026)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sindrom koroner akut (SKA) menempati peringkat pertama morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskular di dunia. Selama ini klasifikasi infark miokard akut didasarkan pada hasil pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), dan dibedakan menjadi ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI) dan non-ST-segment elevation myocardial infarction (NSTEMI). Dewasa ini, paradigma baru occlusion myocardial infarction (OMI) dan non-occlusion myocardial infarction (NOMI) dinilai lebih akurat dibandingkan klasifikasi STEMI/NSTEMI dalam mendeteksi adanya oklusi koroner akut yang membutuhkan reperfusi segera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi usia dan jenis kelamin pasien STEMI/NSTEMI berdasarkan paradigma baru OMI/NOMI. Desain penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang, menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medik pasien STEMI/NSTEMI yang menjalani angiografi koroner di Rumah Sakit Immanuel pada tahun 2023 dan 2024. Subjek penelitian terdiri dari 648 orang pasien yang diklasifikasikan menjadi STEMI(+)OMI, STEMI(-)OMI, STEMI(+)NOMI, dan STEMI(-)NOMI berdasarkan usia dan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan kasus yang paling banyak ditemukan adalah STEMI(+)OMI (49,85%), distribusi terbanyak pada kelompok usia 56–65 tahun (34,10%) dan lebih banyak pada laki-laki (78,09%). Sebagai simpulan, kasus OMI lebih banyak disertai gambaran STEMI. Kasus OMI dan NOMI sekaligus dapat memberikan gambaran STEMI atau NSTEMI; di mana distribusi terbanyak adalah pada laki-laki dengan rentang usia 56–65 tahun. Kata kunci: Jenis Kelamin; OMI/NOMI; STEMI/NSTEMI; Usia