Sindrom koroner akut (SKA) menempati peringkat pertama morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskular di dunia. Selama ini klasifikasi infark miokard akut didasarkan pada hasil pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), dan dibedakan menjadi ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI) dan non-ST-segment elevation myocardial infarction (NSTEMI). Dewasa ini, paradigma baru occlusion myocardial infarction (OMI) dan non-occlusion myocardial infarction (NOMI) dinilai lebih akurat dibandingkan klasifikasi STEMI/NSTEMI dalam mendeteksi adanya oklusi koroner akut yang membutuhkan reperfusi segera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi usia dan jenis kelamin pasien STEMI/NSTEMI berdasarkan paradigma baru OMI/NOMI. Desain penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang, menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medik pasien STEMI/NSTEMI yang menjalani angiografi koroner di Rumah Sakit Immanuel pada tahun 2023 dan 2024. Subjek penelitian terdiri dari 648 orang pasien yang diklasifikasikan menjadi STEMI(+)OMI, STEMI(-)OMI, STEMI(+)NOMI, dan STEMI(-)NOMI berdasarkan usia dan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan kasus yang paling banyak ditemukan adalah STEMI(+)OMI (49,85%), distribusi terbanyak pada kelompok usia 56–65 tahun (34,10%) dan lebih banyak pada laki-laki (78,09%). Sebagai simpulan, kasus OMI lebih banyak disertai gambaran STEMI. Kasus OMI dan NOMI sekaligus dapat memberikan gambaran STEMI atau NSTEMI; di mana distribusi terbanyak adalah pada laki-laki dengan rentang usia 56–65 tahun. Kata kunci: Jenis Kelamin; OMI/NOMI; STEMI/NSTEMI; Usia
Copyrights © 2026