Konversi kawasan mangrove menjadi tambak di wilayah pesisir dan pantai sering dinilai menguntungkan karena menghasilkan pendapatan tunai, tetapi jasa ekologis mangrove jarang diperhitungkan dalam keputusan penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis valuasi ekonomi kawasan hutan mangrove dan tambak tradisional di Desa Muara, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif melalui observasi, wawancara kepada 92 responden, pengukuran vegetasi mangrove, pendekatan harga pasar, replacement cost, valuasi karbon, Total Economic Value (TEV), Cost Benefit Analysis (CBA), dan Extended Cost Benefit Analysis (ECBA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan mangrove seluas 43,66 ha didominasi Avicennia marina dan Avicennia alba dengan rata-rata biomassa 88,78 ton/ha dan cadangan karbon 39,26 ton C/ha. Total manfaat langsung mangrove mencapai Rp1.611.000.000/tahun, sedangkan manfaat tidak langsung mencapai Rp27.347.289.100/tahun. Nilai ekonomi total mangrove sebesar Rp28.958.289.100/tahun atau Rp663.268.188/ha/tahun. Sedangkan pendapatan bersih tambak tradisional sebesar Rp28.290.000/ha/tahun. Dengan demikian, nilai ekonomi mangrove per hektar sekitar 23,45 kali lebih besar dibandingkan tambak tradisional. Hasil CBA menunjukkan tambak layak secara finansial, tetapi ECBA menunjukkan tambak konvensional menjadi tidak layak ketika biaya lingkungan dipertimbangkan. Sistem silvofishery menjadi alternatif transisi karena layak secara ekonomi dan lingkungan hidup serta lebih selaras antara aspek produksi dan aspek konservasi. Kata Kunci: CBA; mangrove; silvofishery; tambak; valuasi ekonom