Abstract. This study is motivated by the declining quality of teacher–student interaction, reflected in the weakening of values such as adab (proper conduct), humility, patience, empathy, and honesty in the learning process. In contrast, the Qur'an presents an exemplary educational interaction through the story of Prophet Musa (Moses) and Khidir in Surah Al-Kahfi verses 66–70. This study aims to analyze the interpretations of Surah Al-Kahfi verses 66–70 using the muqāran (comparative exegesis) approach to identify the moral educational values embedded in the verses. This qualitative study employed a library research method. Primary data were obtained from five tafsir works: Jami' al-Bayan by Al-Tabari, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim by Ibn Kathir, Tafsir Al-Azhar by Hamka, Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab, and Fi Zhilalil Qur'an by Sayyid Qutb. Data were analyzed descriptively through a comparative examination of similarities and differences among the exegetes. The findings reveal six moral educational values in teacher–student interaction: proper conduct, humility, patience, empathy, honesty, and learning agreements. These values remain relevant for contemporary education in fostering humanistic, effective, and character-oriented learning relationships. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya kualitas interaksi antara guru dan murid yang ditandai dengan memudarnya nilai-nilai adab, tawadhu', sabar, empati, dan kejujuran dalam proses pembelajaran. Padahal, Al-Qur'an memberikan teladan interaksi pendidikan melalui kisah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir dalam QS. Al-Kahfi ayat 66–70. Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran para mufassir terhadap QS. Al-Kahfi ayat 66–70 menggunakan pendekatan tafsir muqāran (komparatif) untuk mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung di dalamnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data primer diperoleh dari lima kitab tafsir, yaitu Jami' al-Bayan karya Al-Thabari, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim karya Ibnu Katsir, Tafsir Al-Azhar karya Hamka, Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, dan Fi Zhilalil Qur'an karya Sayyid Quthb. Data dianalisis secara deskriptif-komparatif dengan membandingkan persamaan dan perbedaan penafsiran para mufassir. Hasil penelitian menunjukkan enam nilai pendidikan akhlak dalam interaksi guru dan murid, yaitu adab, tawadhu', sabar, empati, kejujuran, serta kontrak atau kesepakatan belajar. Nilai-nilai tersebut relevan diterapkan dalam pendidikan kontemporer sebagai landasan membangun hubungan edukatif yang humanis, efektif, dan berorientasi pada pembentukan karakter.