Muhammad Eval Juni Wijaya
Program Studi Teknik Geologi, Institut Teknologi Sumatera, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Rekonstruksi Paleobatimetri Formasi Simpangaur Berdasarkan Rasio Plangtonik/Bentonik Foraminifera Kecil di Sungai Padang Guci, Bengkulu Sakilla Gia Mentari; Muhammad Eval Juni Wijaya; Ester Juni Yanti Nainggolan
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 5 No 3 (2025): JUPIN Agustus 2025
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.1716

Abstract

Formasi Simpangaur merupakan salah satu formasi batuan penyusun Cekungan Bengkulu pada Lajur Bengkulu. Penelitian mengenai paleobatimetri di sekitar Sungai Padang Guci belum pernah dilakukan sebelumnya. Analisis paleobatimetri menggunakan kumpulan foraminifera kecil diharapkan dapat melengkapi kajian mengenai formasi ini melalui pendekatan yang berbeda dari penelitian lainnya dan dapat merekonstruksi paleobatimetrinya berdasarkan kandungan fosilnya. Sebanyak 14 sampel sedimen didapatkan berdasarkan metode pengukuran penampang stratigrafi pada sisi Sungai Padang Guci. Selanjutnya sampel dianalisis menggunakan metode hidrogen peroksida di laboratorium dan penentuan batimetri menggunakan perbandingan rasio P/B foraminifera kecil. Berdasarkan pengamatan megaskopis, ditemukan 3 litologi di daerah penelitian yaitu batupasir bermoluska, batupasir tufan, dan tuf. Batuan di lokasi penelitian berumur Pliosen Akhir (PL6/N21) atau berkisar 2,3jtl-1,88jtl berdasarkan kehadiran fosil indeks Globigerinoides fistulosus dan Hastigerina aequilateralis. Hasil rasio P/B berkisar 31,91%-69,23%, menunjukkan paleobatimetri Formasi Simpangaur berada pada zona neritik luar-neritik tengah. Berdasarkan perbedaan kelimpahan foraminifera dan litologinya, daerah penelitian dibagi menjadi 3 zona, yaitu Zona 1 dengan rata-rata kelimpahan 50.73% dan litologi batupasir bermoluska, Zona 2 dengan rata-rata kelimpahan 0% dan litologi batupasir tufan dan tuf, serta Zona 3 dengan rata-rata kelimpahan 47.32% dan litologi batupasir bermoluska. Perubahan paleobatimetri diindikasikan berhubungan dengan aktivitas tektonik regional di Cekungan Bengkulu berupa penurunan cekungan. Keterbatasan data pada Zona 2 diakibatkan berubah litologi menjadi litologi hasil kegiatan vulkanik dimana foraminifera tidak dapat hidup pada kondisi ini. Temuan ini memberikan kontribusi baru pada interpretasi lingkungan purba Formasi Simpangaur.