Kelompok Orang Muda Katolik (OMK) merupakan ujung tombak regenerasi dan vitalitas gereja lokal. Namun, fenomena urbanisasi pendidikan yang masif menyebabkan sebagian besar anggota OMK Paroki Santa Maria Mojorejo, Blitar, menempuh studi di kota-kota besar dan hanya kembali ke kampung halaman pada momen tertentu. Kondisi ini menciptakan tantangan nyata dalam manajemen sumber daya manusia komunitas: keaktifan anggota menurun, koordinasi program terhambat, dan rasa keterikatan terhadap komunitas melemah seiring jarak. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi strategi manajemen SDM berbasis digital yang efektif untuk mempertahankan keterlibatan anggota OMK yang terpencar secara geografis, serta mengukur dampak implementasi strategi tersebut terhadap tingkat partisipasi dan kohesi komunitas. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan partisipatif dengan menggabungkan penyuluhan langsung kepada pengurus dan anggota OMK Paroki Mojorejo, survei kondisi awal, serta pelatihan pemanfaatan platform digital manajemen komunitas. Intervensi dirancang berdasarkan prinsip-prinsip manajemen SDM modern, khususnya teori keterlibatan karyawan jarak jauh yang diadaptasi ke dalam konteks organisasi sosial keagamaan nonprofesional. Hasil menunjukkan bahwa penerapan sistem koordinasi berbasis aplikasi pesan instan terstruktur, pembagian peran berbasis kompetensi digital, dan jadwal check-in rutin secara virtual mampu meningkatkan tingkat kehadiran aktif anggota dalam program komunitas sebesar 47% dibandingkan periode sebelum intervensi. Selain itu, rasa kepemilikan anggota terhadap komunitas—diukur melalui indeks keterlibatan mandiri—meningkat signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen SDM berbasis digital bukan sekadar solusi teknis, melainkan strategi pemberdayaan komunitas yang menghormati keterbatasan geografis anggota sekaligus memperkuat identitas kolektif OMK sebagai komunitas iman yang hidup dan dinamis.