Sheli Fitriani
Universitas Singaperbangsa Karawang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Memaknai Upah Layak: Studi Fenomenologi Pada Pengalaman Pekerja Di Sektor Industri Sheli Fitriani; Dewi Noor Azijah; Mochamad Faizal Rizki
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 3 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i3.842

Abstract

Kabupaten Karawang dikenal sebagai salah satu pusat kawasan industri terbesar di Indonesia dengan nilai Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang berada di antara yang tertinggi secara nasional. Namun demikian, besaran UMK yang tinggi tidak serta-merta menunjukkan bahwa pekerja telah merasakan terpenuhinya makna upah layak dalam kehidupan mereka. Selama ini, penelitian mengenai pengupahan lebih banyak berfokus pada aspek normatif, ekonomi, dan regulasi, sementara pengalaman subjektif pekerja sebagai pihak yang secara langsung menerima dampak kebijakan pengupahan masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna upah layak berdasarkan pengalaman hidup pekerja sektor industri di Kabupaten Karawang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi transendental Clark Moustakas. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap pekerja tetap dan pekerja kontrak pada industri otomotif, yang didukung oleh observasi serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan epoche, phenomenological reduction, imaginative variation, dan synthesis of meanings and essences. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upah layak tidak hanya dipahami sebagai besarnya pendapatan yang diterima, tetapi juga sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup, memberikan rasa aman bagi keberlangsungan ekonomi keluarga, menghadapi ketidakpastian pekerjaan, serta mewujudkan harapan terhadap masa depan. Temuan ini menunjukkan bahwa makna upah layak dibentuk melalui pengalaman sosial pekerja, sehingga evaluasi kebijakan pengupahan perlu mempertimbangkan dimensi subjektif selain indikator ekonomi.