Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dikembangkan sejak jenjang sekolah dasar, khususnya dalam pembelajaran IPAS. Namun, pembelajaran IPAS di sekolah dasar masih banyak didominasi oleh metode ceramah yang berpusat pada guru sehingga siswa cenderung pasif dan kemampuan berpikir kritisnya belum berkembang secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan berpikir kritis siswa kelas III pada pembelajaran IPAS materi bentang alam di UPT SD Negeri Campurejo 2 Rengel, Kabupaten Tuban. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan 15 peserta didik kelas III sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, pre-test, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa masih tergolong rendah, dengan rata-rata nilai pre-test sebesar 46. Sebanyak 53,33% siswa berada pada kategori rendah, 20% pada kategori sangat rendah, dan hanya 26,67% siswa yang berada pada kategori sedang, tanpa ada siswa yang mencapai kategori tinggi. Siswa masih mengalami kesulitan dalam menganalisis hubungan sebab-akibat, memberikan alasan logis, mengevaluasi informasi, serta mengaitkan konsep bentang alam dengan kehidupan sehari-hari. Rendahnya kemampuan tersebut dipengaruhi oleh faktor internal seperti motivasi dan kepercayaan diri belajar yang rendah, serta faktor eksternal berupa dominasi metode ceramah dan minimnya variasi media pembelajaran konkret. Penelitian ini merekomendasikan penerapan pembelajaran aktif, seperti pembelajaran berbasis inkuiri, diskusi kelompok, dan pembelajaran berbasis masalah, sebagai upaya strategis untuk mendorong siswa berpikir lebih kritis, analitis, dan bermakna dalam memahami materi bentang alam.