Abstract. Musculoskeletal disorders (MSDs) are the leading cause of work disability globally, especially in the livestock sector which involves heavy physical activity and non-ergonomic postures. This study aims to determine the relationship between work posture and musculoskeletal complaints in dairy farmers in Wangunsari Village, Lembang District. The method used is observational analytic with a cross-sectional design. A sample of 176 farmers was selected through a simple random sampling technique. Data were collected using the BRIEF Survey instrument for posture assessment and the Nordic Body Map (NBM) for musculoskeletal complaints. The results showed that most farmers had a moderate to high risk of work posture, especially in the wrist (98.9% high risk). The level of risk of musculoskeletal complaints was dominated by the moderate category (59.1%). However, bivariate analysis showed no statistically significant relationship between work posture and the risk of musculoskeletal complaints in all body parts analyzed (p > 0.05). This indicates that despite the risky work posture, complaints experienced by farmers are still at a moderate level, which may be influenced by adaptation factors or work duration. Abstrak. Gangguan muskuloskeletal (MSDs) merupakan penyebab utama disabilitas kerja secara global, terutama pada sektor peternakan yang melibatkan aktivitas fisik berat dan postur tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara postur kerja dengan keluhan muskuloskeletal pada peternak sapi perah di Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, pada tahun 2025. Metode yang digunakan adalah analitik observasional dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 176 peternak dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen BRIEF Survey untuk penilaian postur dan Nordic Body Map (NBM) untuk keluhan muskuloskeletal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak memiliki risiko postur kerja kategori sedang hingga tinggi, terutama pada pergelangan tangan (98,9% risiko tinggi). Tingkat risiko keluhan muskuloskeletal didominasi oleh kategori sedang (59,1%). Namun, analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara postur kerja dengan risiko keluhan muskuloskeletal pada seluruh bagian tubuh yang dianalisis (p > 0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun postur kerja berisiko, keluhan yang dirasakan peternak masih berada pada tingkat moderat, yang mungkin dipengaruhi oleh faktor adaptasi atau durasi kerja.