Budiman
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Postur Kerja dengan Keluhan Muskuloskeleta Pada Peternak Sapi Perah Desa Wangunsari Fadlin Lili Syabani; Purnomo; Budiman
Bandung Conference Series: Medical Science 687-696
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22331

Abstract

Abstract. Musculoskeletal disorders (MSDs) are the leading cause of work disability globally, especially in the livestock sector which involves heavy physical activity and non-ergonomic postures. This study aims to determine the relationship between work posture and musculoskeletal complaints in dairy farmers in Wangunsari Village, Lembang District. The method used is observational analytic with a cross-sectional design. A sample of 176 farmers was selected through a simple random sampling technique. Data were collected using the BRIEF Survey instrument for posture assessment and the Nordic Body Map (NBM) for musculoskeletal complaints. The results showed that most farmers had a moderate to high risk of work posture, especially in the wrist (98.9% high risk). The level of risk of musculoskeletal complaints was dominated by the moderate category (59.1%). However, bivariate analysis showed no statistically significant relationship between work posture and the risk of musculoskeletal complaints in all body parts analyzed (p > 0.05). This indicates that despite the risky work posture, complaints experienced by farmers are still at a moderate level, which may be influenced by adaptation factors or work duration. Abstrak. Gangguan muskuloskeletal (MSDs) merupakan penyebab utama disabilitas kerja secara global, terutama pada sektor peternakan yang melibatkan aktivitas fisik berat dan postur tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara postur kerja dengan keluhan muskuloskeletal pada peternak sapi perah di Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, pada tahun 2025. Metode yang digunakan adalah analitik observasional dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 176 peternak dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen BRIEF Survey untuk penilaian postur dan Nordic Body Map (NBM) untuk keluhan muskuloskeletal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak memiliki risiko postur kerja kategori sedang hingga tinggi, terutama pada pergelangan tangan (98,9% risiko tinggi). Tingkat risiko keluhan muskuloskeletal didominasi oleh kategori sedang (59,1%). Namun, analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara postur kerja dengan risiko keluhan muskuloskeletal pada seluruh bagian tubuh yang dianalisis (p > 0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun postur kerja berisiko, keluhan yang dirasakan peternak masih berada pada tingkat moderat, yang mungkin dipengaruhi oleh faktor adaptasi atau durasi kerja.
Hubungan Intensitas Cahaya Setempat di Ruang Pembelajaran dengan Keluhan Kelelahan Mata Shelby Aquilina Azzahra; Budiman; Ninuk Permata Sari
Bandung Conference Series: Medical Science 1275-1282
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22555

Abstract

Abstract. Inadequate light intensity in study rooms is an environmental factor that can trigger asthenopia or eye fatigue, which affects student health. This study aims to determine the relationship between light intensity in the 5th floor learning room and complaints of eye fatigue among 4th-year students at the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University in 2025. The research method used was an analytical observational study with a cross-sectional design involving 60 fourth-year students at the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University, selected using simple random sampling and purposive sampling techniques for sampling the fifth-floor study rooms at the Faculty of Medicine, Bandung Islamic University. Light intensity was measured using a digital lux meter based on the SNI 6197:2020 standard, while eye fatigue complaints were assessed using the Visual Fatigue Index (VFI) questionnaire. The results showed that all learning rooms (100%) had light intensity below the SNI 6197:2020 standard. A total of 63% of respondents experienced eye fatigue, with the dominant symptoms being drowsiness, itchy eyes, and headaches. Statistical analysis could not be performed because all learning rooms were categorized as not meeting the standard, so there was no data variation. The conclusion of this study shows that the high prevalence of eye fatigue complaints among students occurs in conjunction with substandard room lighting conditions. Therefore, an evaluation and improvement of the lighting system in the campus environment is needed to support visual comfort, maintain student eye health, and support a more optimal learning process. Abstrak. Intensitas cahaya yang tidak memadai di ruang belajar merupakan faktor lingkungan yang dapat memicu astenopia atau kelelahan mata, yang berdampak pada kesehatan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas cahaya di ruang pembelajaran lantai 5 dengan keluhan kelelahan mata pada mahasiswa tingkat 4 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun 2025. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional) terhadap 60 mahasiswa tingkat 4 FK Unisba yang dipilih dengan metode acak sederhana (simple random sampling) dan teknik purposive sampling untuk pengambilan sampel ruang pembelajaran lantai 5 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Intensitas cahaya diukur menggunakan lux meter digital berdasarkan standar SNI 6197:2020, sedangkan keluhan kelelahan mata dinilai menggunakan kuesioner Visual Fatigue Index (VFI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ruang pembelajaran (100%) memiliki intensitas cahaya di bawah standar SNI 6197:2020. Sebanyak 63% responden mengalami kelelahan mata, dengan gejala dominan berupa mengantuk, mata gatal, dan sakit kepala. Analisis hubungan secara statistik tidak dapat dilakukan karena seluruh ruang pembelajaran berada pada kategori tidak memenuhi standar sehingga tidak terdapat variasi data. Simpulan penelitian ini menunjukkan prevalensi keluhan kelelahan mata yang tinggi pada mahasiswa ditemukan terjadi bersamaan dengan kondisi pencahayaan ruangan yang tidak memenuhi standar. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi dan perbaikan sistem pencahayaan di lingkungan kampus untuk mendukung kenyamanan visual, menjaga Kesehatan mata mahasiswa, serta menunjang proses pembelajaran lebih optimal.