Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INOVASI HASIL PANGAN PEMBUATAN KERIPIK BAYAM SEBAGAI ALTERNATIF CEMILAN SEHAT Kasih Iman Gulo; Nince Anjelin Gulo; Desep Aferius Laoli; Perti Citra Damarni Waruwu; Areani Zebua; Budieli Putra Zalukhu; Teguh Wa’asaro Zebua; Newyear Krisman Jaya Harefa; Silvia Siska Halawa; Natalia Kristiani Lase
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 8 (2026): MARTABE : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v9i8.2976-2984

Abstract

Bayam (Amaranthus sp.) merupakan komoditas sayuran daun yang mudah dibudidayakan dan banyak diusahakan di pekarangan maupun lahan pertanian warga Dusun IV, Desa Faodoro Lauru, Kecamatan Hiliduho, Kabupaten Nias. Penanganan pascapanen yang dilakukan masih terbatas pada penjualan dan konsumsi segar sehingga nilai ekonominya rendah, mengingat daun bayam mudah layu dalam hitungan jam setelah panen. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mendiseminasikan teknologi pengolahan pascapanen sederhana kepada kelompok ibu rumah tangga melalui produksi keripik bayam sebagai pangan fungsional bernilai tambah. Metode pelaksanaan mengintegrasikan sosialisasi partisipatif, demonstrasi teknis, dan pendampingan berkelanjutan melalui empat tahap, yaitu persiapan, demonstrasi produksi, pendampingan pengemasan-pemasaran, dan evaluasi. Daun bayam muda dilapisi adonan tepung beras dan tepung terigu berbumbu rempah, lalu digoreng hingga renyah tanpa bahan pengawet sintetis. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kompetensi peserta dalam sortasi dan grading bahan baku, formulasi adonan untuk tekstur renyah dan stabilitas produk, serta strategi pengemasan dan branding sederhana yang mendukung daya saing pasar. Produk keripik bayam berpotensi dikembangkan menjadi unit usaha rumah tangga yang meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus mendorong diversifikasi konsumsi sayuran, termasuk bagi ibu hamil yang membutuhkan asupan zat besi untuk mencegah anemia defisiensi besi. Kegiatan ini dapat menjadi model pengembangan agroindustri skala rumah tangga yang berpotensi direplikasi di wilayah pedesaan lain dengan karakteristik agroekologi serupa
Penerapan Sarunisasi Sebagai Upaya Perlindungan Buah Pisang Kepok di Kabupaten Nias Perti Citra Damarni Waruwu; Silvia Siska Halawa; Kasih Iman Gulo; Newyear Krisman Jaya Harefa; Teguh Wa'asaro Zebua; Budieli Putra Zalukhu; Areani Zebua; Desepi Aferius Laoli; Nince Anjeli Gulo; Natalia Kristiani Lase
Jurnal Research Ilmu Pertanian Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Research Ilmu Pertanian (Agustus 2026)
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/asq0ht16

Abstract

Pisang kepok merupakan komoditas hortikultura unggulan di Indonesia yang produksinya rentan terhadap serangan hama seperti thrips, ulat buah, dan lalat buah, serta risiko luka gesek yang mempercepat pembusukan. Artikel ini mengkaji praktik ‘sarunisasi’, yaitu pembungkusan tandan pisang kepok menggunakan plastik atau kertas yang dilakukan secara turun-temurun oleh petani di Kabupaten Nias, sebagaimana diamati melalui kegiatan magang mahasiswa di Dusun II, Desa Fadoro Lauru, Kecamatan Hiliduho. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi visual, kemudian dianalisis secara deskriptif-kualitatif dengan membandingkannya pada literatur ilmiah nasional dan internasional dalam lima tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa sarunisasi dilakukan sejak jantung pisang mulai mekar hingga sebelum sisir buah terbuka penuh, dengan tiga tujuan utama, yaitu melindungi buah dari hama, mencegah luka gesek yang menjadi jalan masuk patogen, dan menjaga kualitas fisik buah untuk mempertahankan nilai jualnya. Pada beberapa kasus, praktik ini dipadukan dengan penyemprotan insektisida secara terbatas. Temuan ini memperlihatkan bahwa sarunisasi merupakan bentuk kearifan agronomis lokal yang secara prinsip sejalan dengan kajian ilmiah mengenai pengemasan tandan pisang (fruit bagging) di berbagai negara penghasil pisang, sekaligus membuka peluang pengembangan lebih lanjut melalui uji coba bahan pembungkus alternatif dan edukasi penggunaan insektisida yang lebih aman.