Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Kandungan COD dan Besi (Fe) pada Air Limbah di Perkebunan Kelapa Sawit sebagai Indikator Pencemaran Lingkungan Nur Isra; Wina, Lun; Supriadi, Adi; Siahaya, Martha Ekawati
Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70561/3gd7bb53

Abstract

Air limbah merupakan salah satu sumber pencemar yang dapat menurunkan kualitas lingkungan apabila tidak diolah sesuai baku mutu yang berlaku. Parameter Chemical Oxygen Demand (COD) dan logam berat besi (Fe) menjadi indikator penting dalam menilai tingkat pencemaran air limbah karena keduanya mencerminkan kandungan bahan pencemar organik, anorganik, serta logam yang berpotensi mengganggu ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan logam berat besi (Fe) pada air limbah workshop dan domestik di perkebunan kelapa sawit, kemudian disesuaikan hasil pengujian dengan baku mutu air limbah yang berlaku. Metode yang digunakan adalah pengujian laboratorium terhadap lima sampel air limbah. Parameter COD dianalisis menggunakan metode refluks tertutup dengan spektrofotometer UV-Vis mengacu pada SNI 6989.2:2019, sedangkan kadar Fe dianalisis menggunakan spektrofotometer serapan atom (SSA/AAS) pada panjang gelombang 248,3 nm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada parameter COD, sampel kode 1 dan 2 dari limbah workshop kelapa sawit serta sampel kode 3 dari limbah domestik tidak memenuhi baku mutu, sedangkan sampel kode 4 dan 5 memenuhi baku mutu. Pada parameter Fe, sampel kode 1 dan 2 memiliki kadar Fe sebesar 28,0920 mg/L dan 12,7949 mg/L sehingga melebihi baku mutu 5 mg/L, sedangkan sampel kode 3, 4, dan 5 memenuhi baku mutu dengan kadar Fe masing-masing 0,1256 mg/L, 0,0254 mg/L, dan 0,0219 mg/L. Analisis menunjukkan bahwa beberapa sampel air limbah memiliki konsentrasi COD dan Fe yang masih melebihi ambang batas, sehingga penguatan sistem pengolahan diperlukan, terutama pada tahap pra-pengolahan, filtrasi, dan pengendalian sumber pencemar, untuk mencegah degradasi kualitas lingkungan.