Perubahan teknologi, globalisasi, dan kompleksitas persoalan pendidikan menuntut model kepemimpinan yang tidak hanya efektif secara manajerial, tetapi juga memiliki landasan moral, spiritual, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemikiran Buya Hamka sebagai dasar pengembangan model kepemimpinan pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan pendidikan berkelanjutan di era modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Critical Interpretive Synthesis (CIS) yang dipadukan dengan analisis hermeneutik-kontekstual dan conceptual model building. Data utama bersumber dari karya-karya Buya Hamka yang relevan dengan pendidikan, akhlak, ilmu, manusia, tanggung jawab, dan kehidupan sosial, serta didialogkan dengan literatur tentang kepemimpinan pendidikan Islam dan pendidikan berkelanjutan. Analisis dilakukan melalui pemetaan pengetahuan, interpretasi kontekstual, pengodean konseptual, sintesis komparatif dan kritis, serta konstruksi model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Hamka dapat dikembangkan menjadi enam dimensi kepemimpinan pendidikan Islam, yaitu spiritual-intelektual, etis-keteladanan, kritis-inovatif, adaptif, akuntabel, dan sosial-kemaslahatan. Keenam dimensi tersebut membentuk hubungan antara nilai, kapabilitas kepemimpinan, transformasi ekosistem pendidikan, dan pendidikan berkelanjutan. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan pemikiran Buya Hamka dari kajian pendidikan dan karakter menjadi model konseptual kepemimpinan pendidikan Islam yang mengintegrasikan nilai Islam dengan kebutuhan adaptasi, inovasi, tata kelola, dan keberlanjutan pendidikan. Model ini menawarkan kerangka konseptual bagi pengembangan kepemimpinan sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi Islam yang berintegritas, adaptif, visioner, dan berorientasi pada kemaslahatan. Pengujian empiris diperlukan untuk memvalidasi konstruk dan penerapan model pada berbagai konteks lembaga pendidikan Islam.