Di era digital saat ini, penyebaran disinformasi sangatlah merajalela, terutama karena kebohongan terbukti menyebar jauh lebih cepat dan lebih mudah dibagikan oleh orang-orang dibandingkan fakta yang sebenarnya. Kerentanan ini menjadi sangat nyata di dalam kelompok sosial yang memiliki ikatan kepercayaan tinggi (high-trust network), seperti pada komunitas connect group gereja. Di dalam grup perpesanan privat komunitas ini, kedekatan emosional dan rasa saling percaya sering kali membuat anggotanya langsung meneruskan pesan secara spontan tanpa mengecek ulang kebenarannya. Tantangannya kini semakin berat dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI) generatif yang disalahgunakan untuk memproduksi hoaks secara massal dan instan layaknya sebuah pabrik. Kecepatan mesin pembuat hoaks ini membuat cara-cara cek fakta manual dan literasi digital konvensional tidak lagi cukup untuk membendungnya. Berangkat dari kegelisahan tersebut, kegiatan pengabdian ini mengajak anggota komunitas gereja untuk berlatih secara partisipatif dalam menghadapi krisis informasi ini. Menariknya, kajian ini menemukan sebuah solusi: meskipun AI kerap dipakai untuk menciptakan hoaks, teknologi yang sama sebenarnya bisa kita manfaatkan sebagai pendeteksi dini untuk memilah informasi yang mencurigakan. Melalui penerapan pendekatan Human-in-the-Loop, kami melatih warga untuk menggunakan AI sebagai alat bantu pemilah awal (triage). Dalam sistem ini, AI membantu menyaring informasi secara cepat, tetapi manusialah yang memegang kendali proaktif sebagai penentu akhir kebenarannya. Singkatnya, kolaborasi hibrida antara kecerdasan mesin dan nalar kritis manusia ini menciptakan sebuah sistem pertahanan informasi yang tangguh di tingkat akar rumput. Alih-alih menyerahkan keputusan mutlak pada algoritma mesin, pendekatan ini justru memberdayakan warga untuk mencegat hoaks bersama-sama sebelum kebohongan tersebut telanjur viral.