High private vehicle usage in DKI Jakarta triggers severe traffic congestion and increased greenhouse gas emissions. This research analyzes the role of multimodal integration between MRT Jakarta and Transjakarta in supporting the accelerated transition toward a low-carbon city economy. Through a quantitative transportation engineering approach, primary data were gathered from 113 commuters utilizing integration nodes along Corridor 1 and Corridor 8. The data were analyzed using the Importance-Performance Analysis (IPA) method on a Cartesian diagram with a central cross-average cut-off point of (2.988;2.938). The results indicate that electronic payment system reliability (A5), pedestrian security (A6), integrated routing effectiveness (A8), and the affordable bundled tariff (A7) successfully achieved superior performance in Quadrant B (Keep Up the Good Work). Conversely, critical constraints were identified in Quadrant A (Top Priority), marked by low performance in digital route information accessibility (A1) and physical pedestrian circulation limitations (A4) due to bottleneck crowding and lack of sheltered walkways. In conclusion, flexible adaptive management driven by real-time data is highly required for regulators and operators to optimize pedestrian geometries and standardize circulation information to achieve a seamless transfer ecosystem. Abstrak Tingginya penggunaan kendaraan pribadi di DKI Jakarta memicu permasalahan kemacetan lalu lintas serta peningkatan emisi gas buang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran keterpaduan antarmoda antara Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta dan Transjakarta sebagai jaringan transportasi publik terintegrasi guna mendukung akselerasi transisi menuju ekonomi karbon rendah. Melalui pendekatan kuantitatif rekayasa transportasi, data primer dikumpulkan dari 113 komuter aktif di simpul integrasi Koridor 1 dan Koridor 8. Data dianalisis menggunakan metode Importance-Performance Analysis (IPA) berbasis diagram Kartesius dengan titik potong sentral (2,988; 2,938). Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut keandalan sistem pembayaran elektronik (A5), jaminan keamanan pedestrian (A6), efektivitas penataan rute koridor terpadu (A8), dan keterjangkauan tarif kombinasi (A7) berhasil mencapai performa unggul di Kuadran B (Pertahankan Prestasi). Sebaliknya, kendala kritis ditemukan pada Kuadran A (Prioritas Utama), yaitu rendahnya kinerja aksesibilitas informasi rute digital (A1) serta keterbatasan sirkulasi fisik pedestrian (A4) akibat munculnya titik penumpukan penumpang (bottleneck) dan ketiadaan kanopi peneduh (sheltered walkway). Kesimpulannya, diperlukan penerapan adaptasi manajemen yang fleksibel berbasis data waktu-nyata oleh regulator dan operator demi mewujudkan ekosistem perpindahan yang tanpa hambatan (seamless transfer).