Cedera menyebabkan hampir 8% kematian global setiap tahun dan sering ditangani secara mandiri oleh masyarakat sebelum memperoleh pelayanan medis. Masyarakat Desa Lenek, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, masih mengandalkan pengobatan tradisional oleh belian menggunakan ramuan tumbuhan untuk mengatasi cedera seperti keseleo, patah tulang, luka terbuka, dan luka bakar, namun pengetahuan ini belum banyak terdokumentasi secara ilmiah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi komposisi ramuan tumbuhan yang digunakan, cara pembuatan dan pemakaiannya, serta menilai tingkat kepentingan tumbuhan tersebut. Penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif ini melibatkan tujuh belian sebagai informan yang dipilih melalui snowball sampling di 14 dusun Desa Lenek pada Januari sampai Februari 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur berpedoman dan observasi, kemudian dianalisis secara deskriptif serta dengan perhitungan Index of Cultural Significance dan Fidelity Level. Ditemukan 17 ramuan untuk mengobati cedera, terdiri atas 16 bahan tumbuhan dari 11 famili dan 6 bahan non-tumbuhan. Ramuan umumnya dibuat dengan cara ditumbuk, lalu dioleskan atau ditempelkan pada area cedera dengan frekuensi satu hingga tiga kali sehari. Nilai ICS tertinggi diperoleh kelor (Moringa oleifera Lamk.) sebesar 64, sedangkan nilai FL tertinggi dicapai sirih (Piper betle L.) pada pengobatan keseleo dan kunyit (Curcuma longa L.) pada pengobatan luka terbuka, masing-masing sebesar 75%. Masyarakat Desa Lenek memiliki pengetahuan etnomedisin yang beragam dalam meracik dan memanfaatkan tumbuhan obat untuk mengatasi cedera, dengan tingkat kepentingan tumbuhan yang berbeda-beda berdasarkan nilai ICS dan FL, sehingga berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku obat herbal berbasis bukti.