Johri Johri
Program Studi Pendidikan Dasar, Program Magister, Universitas Hamzanwadi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTEGRASI KEARIFAN LOKAL DAN NILAI ISLAM UNTUK MEMBENTUK KEWARGAAN EKOLOGIS DI MADRASAH Johri Johri; Hary Murcahyanto; Baiq Rismarini Nursaly
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v5i4.15242

Abstract

ABSTRACT Ecological education in madrasahs needs to connect environmental knowledge with students’ values, experiences, responsibilities, and actions. This study aims to understand the integration of Sembalun local wisdom and Islamic/NWDI values in ecological learning and the development of ecological literacy, ecological values, environmental responsibility, ecological agency, and ecological citizenship at MTs Pangsor Gunung NWDI Sembalun Bumbung. This qualitative study employed a single embedded case study design. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation involving purposively selected informants and were analyzed using reflexive thematic analysis. The findings show that Ngasuh Gunung, terraced farming, Mangan, Sangkep, and Gili-gili provide sources of ecological and social knowledge, while khalifah, amanah, mizan, tawazun, and rahmatan lil alamin provide ethical orientations. Contextual learning has connected subject matter with students’ environments and experiences, but its implementation remains sporadic. Ecological literacy remains basic, while ecological values and environmental responsibility develop through habituation, ecological agency is beginning to emerge, and ecological citizenship has not yet been institutionally sustained. The findings indicate that ecological citizenship does not develop linearly but through interactions among knowledge, values, responsibility, agency, and participation. Local wisdom provides ecological context and identity, Islamic values provide ethical orientation, and contextual learning serves as a pedagogical mechanism toward ecological citizenship. ABSTRAK Pendidikan ekologis pada madrasah perlu menghubungkan pengetahuan lingkungan dengan nilai, pengalaman, tanggung jawab, dan tindakan peserta didik. Penelitian ini bertujuan memahami integrasi kearifan lokal Sembalun dan nilai Islam/NWDI dalam pembelajaran ekologis serta pembentukan ecological literacy, ecological values, environmental responsibility, ecological agency, dan ecological citizenship di MTs Pangsor Gunung NWDI Sembalun Bumbung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal terpancang. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi dari informan yang dipilih secara purposive, kemudian dianalisis menggunakan reflexive thematic analysis. Temuan menunjukkan bahwa Ngasuh Gunung, terasering, Mangan, Sangkep, dan Gili-gili menyediakan sumber pengetahuan ekologis dan sosial, sedangkan khalifah, amanah, mizan, tawazun, dan rahmatan lil alamin memberikan orientasi etis. Pembelajaran kontekstual telah menghubungkan materi dengan lingkungan dan pengalaman peserta didik, tetapi masih sporadis. Ecological literacy masih dasar, values dan responsibility berkembang melalui pembiasaan, agency mulai muncul, sedangkan citizenship belum terlembaga secara berkelanjutan. Temuan menegaskan bahwa ecological citizenship tidak berkembang secara linear, tetapi melalui interaksi pengetahuan, nilai, tanggung jawab, agency, dan partisipasi. Kearifan lokal berfungsi sebagai konteks dan identitas ekologis, nilai Islam sebagai orientasi etis, sedangkan pembelajaran kontekstual menjadi mekanisme pedagogis menuju kewargaan ekologis.
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI BUDAYA LOKAL DAN BAHASA DI KAWASAN WISATA: STUDI KASUS SMA NEGERI 1 SEMBALUN Johri Johri; Padlurrahman Padlurrahman; Badarudin Badarudin
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.14989

Abstract

ABSTRACT Character education based on local culture faces challenges arising from globalization and tourism development, which affect the sustainability of local values and language. This study aims to analyze the condition of local cultural values and language, their implementation in education, and their contribution to students’ character development at SMA Negeri 1 Sembalun. This qualitative study employed a case study design. Participants included the principal, teachers, students, community leaders, and parents. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. Data validity was established through source, technique, and time triangulation. The findings indicate that local cultural values and language are in a critical transition phase, characterized by the dominance of Indonesian in approximately 70% of students’ conversations and declining use of respectful greetings and traditional expressions, while mutual cooperation remains relatively strong. The implementation of cultural programs and the zero-waste program has not been systematically integrated into the curriculum due to limited resources, a dense curriculum, and low student interest. Their contribution to character development is primarily evident in mutual cooperation and responsibility, whereas politeness, respect, and cultural pride remain suboptimal. The novelty of this study lies in analyzing the interconnectedness of language shift, cultural values, character education, and tourism within the specific context of Sembalun. The study recommends integrating local wisdom into learning and strengthening collaboration among schools, families, and communities. ABSTRAK Pendidikan karakter berbasis budaya lokal menghadapi tantangan akibat globalisasi dan perkembangan pariwisata yang memengaruhi keberlangsungan nilai serta bahasa lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi nilai budaya dan bahasa lokal, implementasinya dalam pendidikan, serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter siswa di SMA Negeri 1 Sembalun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru, siswa, tokoh masyarakat, dan orang tua siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai budaya dan bahasa lokal berada dalam fase transisi kritis, ditandai dominasi bahasa Indonesia dalam sekitar 70% percakapan siswa, berkurangnya sapaan hormat dan ungkapan tradisional, sementara gotong royong masih relatif kuat. Implementasi program budaya dan zero waste belum terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum karena keterbatasan sumber daya, kepadatan kurikulum, dan rendahnya minat siswa. Kontribusi terhadap karakter terutama terlihat pada gotong royong dan tanggung jawab, sedangkan kesantunan, penghormatan, dan kebanggaan budaya belum optimal. Kebaruan penelitian terletak pada analisis keterkaitan pergeseran bahasa, nilai budaya, pendidikan karakter, dan pariwisata dalam konteks Sembalun. Penelitian merekomendasikan integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran dan penguatan kolaborasi sekolah, keluarga, serta masyarakat.