Padlurrahman Padlurrahman
Program Studi Pendidikan Dasar, Program Magister, Universitas Hamzanwadi

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGEMBANGAN BAHAN BACAAN BERGAMBAR BERBASIS BUDAYA SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN LITERASI BAHASA INGGRIS Siti Sarah Maulida; Padlurrahman Padlurrahman; Baiq Rismarini Nursaly
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v5i4.15245

Abstract

ABSTRACT English literacy activities in elementary schools still face limitations in the availability of engaging, contextual reading materials that suit students’ characteristics. Existing materials rarely integrate school activities and culture as part of students’ learning experiences. This study aimed to develop illustrated English reading materials based on school culture that are valid, practical, and effective in supporting reading instruction. This study employed a Research and Development (R&D) method using the ADDIE model, consisting of analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. The product was developed based on a needs analysis through observation, interviews, and document analysis. Validation was conducted by material, media, and language experts, while implementation involved fourth-grade students at SD Unggulan Hamzanwadi and SD Negeri 3 Pancor. Data were collected through validation sheets, observations, response questionnaires, and reading tests administered before and after product use. Data were analyzed descriptively and quantitatively using Normalized Gain (N-Gain). The results showed an eligibility score of 88.67%, categorized as very good, positive user responses, and moderate improvement in reading ability. The product is therefore suitable as supplementary material for English reading instruction and literacy activities in elementary schools. ABSTRAK Kegiatan literasi bahasa Inggris di sekolah dasar masih menghadapi keterbatasan bahan bacaan yang menarik, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Bahan bacaan yang tersedia belum banyak mengintegrasikan aktivitas dan budaya sekolah sebagai bagian dari pengalaman belajar. Penelitian ini bertujuan mengembangkan bahan bacaan bahasa Inggris bergambar berbasis budaya sekolah yang valid, praktis, dan efektif sebagai pendukung pembelajaran membaca. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Produk dikembangkan berdasarkan analisis kebutuhan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Validasi dilakukan oleh ahli materi, media, dan bahasa, sedangkan implementasi melibatkan peserta didik kelas IV SD Unggulan Hamzanwadi dan SD Negeri 3 Pancor. Data dikumpulkan melalui lembar validasi, observasi, angket respons, dan tes membaca sebelum serta sesudah penggunaan produk. Analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan menggunakan Normalized Gain (N-Gain). Hasil menunjukkan tingkat kelayakan sebesar 88,67% dengan kategori sangat baik, respons pengguna positif, dan peningkatan kemampuan membaca pada kategori sedang. Produk layak digunakan sebagai bahan pendukung pembelajaran membaca dan literasi bahasa Inggris di sekolah dasar.
PENGEMBANGAN LKPD BERBASIS CHALLENGE-BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PROBLEM SOLVING SISWA SEKOLAH DASAR DALAM PEMBELAJARAN IPAS Lailatul Ismi; Padlurrahman Padlurrahman; Nuraeni Nuraeni
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i4.15058

Abstract

ABSTRACT The limitations of student worksheets (LKPD) in IPAS learning within the Lepak Cluster are reflected in activities that remain centered on material summaries and closed-ended exercises, while problem-solving processes have not yet been systematically facilitated. This condition provided the basis for developing a Challenge-Based Learning (CBL)-based student worksheet designed to connect challenges, investigation, solution development, and reflection within a coherent learning experience. The study employed Research and Development using the ADDIE model through needs analysis, design, development and validation, field testing, and product evaluation. The implementation involved 80 sixth-grade students from four schools, comprising 40 students in the experimental group and 40 in the control group. Data were collected through expert validation, teacher and student responses, and problem-solving tests. The analysis included validity and practicality assessments, N-Gain, normality and homogeneity tests, and an independent samples t-test. The product obtained scores of 70 from the material expert, 70 from the design expert, and 71 from the language expert, all categorized as highly valid. Practicality reached 92.67% based on teacher responses and 85.96% based on student responses, both categorized as highly practical. The experimental group achieved an N-Gain of 0.60 (60%; moderate), compared with 0.26 (26%; low) in the control group, with a significant difference (t = 16.818; Sig. 2-tailed = 0.000). These findings position the CBL-based student worksheet as a learning resource capable of facilitating problem-solving through a more structured learning experience for elementary school students. ABSTRAK Keterbatasan LKPD dalam pembelajaran IPAS di Gugus 1 Lepak terlihat dari aktivitas yang masih berpusat pada ringkasan materi dan soal tertutup, sementara proses problem solving belum difasilitasi secara bertahap. Kondisi tersebut menjadi pijakan pengembangan LKPD berbasis Challenge-Based Learning (CBL) untuk menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan tantangan, penyelidikan, penyusunan solusi, dan refleksi. Penelitian ini menggunakan Research and Development dengan model ADDIE melalui analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan dan validasi, uji coba, serta evaluasi produk. Implementasi melibatkan 80 siswa kelas VI dari empat sekolah, dengan 40 siswa pada kelompok eksperimen dan 40 siswa pada kelompok kontrol. Data diperoleh melalui validasi ahli, respons guru dan siswa, serta tes problem solving. Analisis mencakup penilaian validitas dan kepraktisan, N-Gain, uji normalitas, homogenitas, dan independent samples t-test. Produk memperoleh skor 70 dari ahli materi, 70 dari ahli desain, dan 71 dari ahli bahasa dengan kategori sangat valid. Kepraktisan mencapai 92,67% dari guru dan 85,96% dari siswa dengan kategori sangat praktis. N-Gain kelompok eksperimen mencapai 0,60 (60%; sedang), sedangkan kontrol 0,26 (26%; rendah), dengan perbedaan signifikan (t = 16,818; Sig. 2-tailed = 0,000). Temuan tersebut menempatkan LKPD berbasis CBL sebagai perangkat yang dapat memfasilitasi problem solving melalui pengalaman belajar yang lebih terarah pada siswa sekolah dasar.
PENGEMBANGAN MODUL AJAR BERBASIS STEAM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR Risa Febriana Putri; Padlurrahman Padlurrahman; Marhamah Marhamah
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i4.15069

Abstract

ABSTRACT The needs of IPAS learning in elementary schools extend beyond conceptual mastery to include the availability of instructional resources that guide students in using knowledge to examine and solve problems. This study developed a teaching module based on Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) for fourth-grade students on the topic of changes in the state of matter, with the aim of producing a valid, practical, and effective product to support critical thinking skills. The development followed the Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE) model and involved 18 fourth-grade students at SD Unggulan Hamzanwadi. Product validity was assessed by material, language, and design experts, while practicality was evaluated by a teacher and effectiveness was examined through a critical thinking test using a One Group Pretest-Posttest design. The product obtained validation scores of 45 from the material expert, 46 from the language expert, and 40 from the design expert, categorized as very valid for material and language and good for design. The teacher's practicality assessment reached 90%, categorized as very practical. Student achievement increased from a mean pretest score of 78.33 to 94.44 on the posttest, with an N-Gain of 0.79, categorized as high. These findings indicate that the developed module demonstrates adequate validity, practicality, and initial effectiveness as an IPAS instructional resource supporting the development of elementary students' critical thinking skills. ABSTRAK Kebutuhan pembelajaran IPAS di sekolah dasar tidak hanya berkaitan dengan penguasaan konsep, tetapi juga dengan tersedianya perangkat yang dapat mengarahkan siswa menggunakan pengetahuan untuk menelaah dan memecahkan persoalan. Penelitian ini mengembangkan modul ajar berbasis Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) pada materi perubahan wujud benda kelas IV dengan sasaran menghasilkan produk yang valid, praktis, dan efektif dalam mendukung kemampuan berpikir kritis. Pengembangan mengikuti model Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE), melibatkan 18 siswa kelas IV SD Unggulan Hamzanwadi. Kelayakan produk diperoleh melalui validasi ahli materi, bahasa, dan desain, sedangkan keterpakaian dinilai oleh guru dan efektivitasnya melalui tes kemampuan berpikir kritis dengan desain One Group Pretest-Posttest. Produk memperoleh skor validasi 45 dari ahli materi, 46 dari ahli bahasa, dan 40 dari ahli desain, dengan kategori sangat valid pada materi dan bahasa serta baik pada desain. Penilaian guru mencapai 90% dengan kategori sangat praktis. Perubahan capaian siswa tampak dari rata-rata 78,33 pada pretest menjadi 94,44 pada posttest, dengan N-Gain 0,79 pada kategori tinggi. Temuan tersebut menegaskan bahwa modul yang dikembangkan memiliki kelayakan, keterpakaian, dan efektivitas awal sebagai perangkat pembelajaran IPAS yang mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar.
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI BUDAYA LOKAL DAN BAHASA DI KAWASAN WISATA: STUDI KASUS SMA NEGERI 1 SEMBALUN Johri Johri; Padlurrahman Padlurrahman; Badarudin Badarudin
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.14989

Abstract

ABSTRACT Character education based on local culture faces challenges arising from globalization and tourism development, which affect the sustainability of local values and language. This study aims to analyze the condition of local cultural values and language, their implementation in education, and their contribution to students’ character development at SMA Negeri 1 Sembalun. This qualitative study employed a case study design. Participants included the principal, teachers, students, community leaders, and parents. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. Data validity was established through source, technique, and time triangulation. The findings indicate that local cultural values and language are in a critical transition phase, characterized by the dominance of Indonesian in approximately 70% of students’ conversations and declining use of respectful greetings and traditional expressions, while mutual cooperation remains relatively strong. The implementation of cultural programs and the zero-waste program has not been systematically integrated into the curriculum due to limited resources, a dense curriculum, and low student interest. Their contribution to character development is primarily evident in mutual cooperation and responsibility, whereas politeness, respect, and cultural pride remain suboptimal. The novelty of this study lies in analyzing the interconnectedness of language shift, cultural values, character education, and tourism within the specific context of Sembalun. The study recommends integrating local wisdom into learning and strengthening collaboration among schools, families, and communities. ABSTRAK Pendidikan karakter berbasis budaya lokal menghadapi tantangan akibat globalisasi dan perkembangan pariwisata yang memengaruhi keberlangsungan nilai serta bahasa lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi nilai budaya dan bahasa lokal, implementasinya dalam pendidikan, serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter siswa di SMA Negeri 1 Sembalun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru, siswa, tokoh masyarakat, dan orang tua siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai budaya dan bahasa lokal berada dalam fase transisi kritis, ditandai dominasi bahasa Indonesia dalam sekitar 70% percakapan siswa, berkurangnya sapaan hormat dan ungkapan tradisional, sementara gotong royong masih relatif kuat. Implementasi program budaya dan zero waste belum terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum karena keterbatasan sumber daya, kepadatan kurikulum, dan rendahnya minat siswa. Kontribusi terhadap karakter terutama terlihat pada gotong royong dan tanggung jawab, sedangkan kesantunan, penghormatan, dan kebanggaan budaya belum optimal. Kebaruan penelitian terletak pada analisis keterkaitan pergeseran bahasa, nilai budaya, pendidikan karakter, dan pariwisata dalam konteks Sembalun. Penelitian merekomendasikan integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran dan penguatan kolaborasi sekolah, keluarga, serta masyarakat.