This study aims to describe the differences in setting, plot, and characters and characterization between the Korean version of the film Miracle in Cell No. 7, directed by Lee Hwan-kyung, and the Indonesian version, directed by Hanung Bramantyo. This study employs a qualitative approach using descriptive methods and a comparative literary approach. The research data consists of dialogue, scenes, and visuals that illustrate the differences in the intrinsic elements of the two films. Data collection was conducted through observation and note-taking, while data analysis utilized Burhan Nurgiyantoro’s structural theory and a comparative literary approach.The research findings indicate that differences in setting elements including setting of place, setting of time, and social setting are adapted to the cultural context of each country. Differences in plot elements were found in the situation, generating circumstances, rising action, and denouement stages, while the climax stage remains the core of the story’s conflict. Regarding characters and characterization, no significant differences were found in the main characters, while changes were evident in the secondary characters and the characterization of supporting characters as a form of adaptation to dramatic needs and local culture. The research findings indicate that film adaptation is a process of reinterpretation that preserves the essence of the story but adapts its intrinsic elements to the social and cultural context of the target audience. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud perbedaan unsur latar, alur, serta tokoh dan penokohan dalam film Miracle in Cell No. 7 versi Korea yang disutradarai Lee Hwan-kyung dan versi Indonesia yang disutradarai Hanung Bramantyo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta pendekatan sastra bandingan. Data penelitian berupa dialog, adegan, dan visual yang menunjukkan perbedaan unsur intrinsik kedua film. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat, sedangkan analisis data menggunakan teori struktural Burhan Nurgiyantoro dan pendekatan sastra bandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan unsur latar meliputi latar tempat, latar waktu, dan latar sosial yang disesuaikan dengan konteks budaya masing-masing negara. Perbedaan unsur alur ditemukan pada tahap situation, generating circumstances, rising action, dan denouement, sedangkan tahap climax tetap dipertahankan sebagai inti konflik cerita. Pada unsur tokoh dan penokohan, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada tokoh utama, sedangkan perubahan tampak pada tokoh tambahan dan penokohan tokoh pendukung sebagai bentuk penyesuaian terhadap kebutuhan dramatik dan budaya lokal. Temuan penelitian menunjukkan bahwa adaptasi film merupakan proses reinterpretasi yang mempertahankan esensi cerita, tetapi menyesuaikan unsur intrinsiknya dengan konteks sosial dan budaya masyarakat penerima.