Penelitian ini merupakan studi kasus yang mengkaji relevansi teori linguistik struktural Ferdinand de Saussure dan teori semiotika triadik Charles Sanders Peirce dalam analisis komunikasi verbal di aplikasi WhatsApp. Sebagai platform pesan instan yang paling banyak digunakan di Indonesia, WhatsApp menjadi konteks kasus yang terbatas namun produktif untuk mengamati proses pembentukan makna dalam interaksi digital. Dengan rancangan studi kasus kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data primer berupa sampel pesan WhatsApp yang diperoleh atas persetujuan informan anonim, dilengkapi wawancara semiterstruktur singkat untuk menggali maksud produksi dan interpretasi pesan. Unit kasus terdiri dari dua sampel pesan yang terpilih secara purposif karena secara jelas memanifestasikan signifiant (penanda), signifié (petanda), dan elemen triadik Peirce (representamen, objek, dan interpretant). Analisis dilakukan melalui pemberian kode terbuka, pengelompokan tematik, dan triangulasi antara pesan, data wawancara, dan literatur relevan. Penelitian ini menemukan bahwa kerangka signifiant-signifié Saussure masih dapat diterapkan dalam komunikasi digital, di mana penanda tidak lagi terbatas pada teks tertulis, melainkan mencakup emoji, singkatan, dan simbol visual. Hubungan penanda-petanda bersifat arbitrer dan kontekstual, dibentuk oleh relasi sosial dan faktor situasional antarpenutur. Model triadik Peirce memperkaya analisis dengan menjelaskan bagaimana makna terbentuk melalui proses interpretasi, termasuk peran elemen antarmuka seperti tanda centang biru dan stempel waktu sebagai tanda yang fungsional. Analisis terhadap dua sampel pesan menunjukkan bahwa kedua kerangka teori tersebut saling melengkapi dalam menangkap kompleksitas pembentukan makna dalam komunikasi digital. Penelitian ini menegaskan bahwa teori semiotika klasik tetap memiliki nilai analitis yang kuat untuk memahami praktik kebahasaan kontemporer di lingkungan digital.