Ardabilly Jannatul Firdaus
Universitas Nusantara PGRI Kediri

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PELANGGARAN MAKSIM KESANTUNAN LEECH DALAM KOLOM KOMENTAR VIDEO TVONE NEWS TENTANG USULAN WFH BAGI ASN Ardabilly Jannatul Firdaus; Siti Chalimatus Sa'Diyah; Karmila Karmila; Erina Ayu Lestari; Nur Lailiyah
Arbitrer : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 8 No 1 (2026): Arbitrer: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Pattimura (Indonesia Language and Literature Education Department, The Faculty of Teacher's Training and Educational Sciences, University of Pattimura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bentuk-bentuk pelanggaran maksim kesantunan yang diucapkan berdasarkan teori Leech dalam kolom komentar unggahan TikTok tvOne News terkait wacana Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik dengan metode deskriptif kualitatif. Sumber data berupa 4.259 komentar warganet pada unggahan video politik bertajuk “Prabowo Minta Kabinet Hemat BBM, Pemerintah Kaji WFH bagi ASN”. Data penelitian difokuskan pada 28 tuturan kebetulan yang mengindikasikan adanya pelanggaran kesantunan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dengan teknik catat dan dokumentasi media digital. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan berdasarkan kerangka enam maksim kesantunan Leech. Keabsahan data diuji melalui triangulasi teori dan peningkatan ketekunan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pelanggaran terhadap seluruh maksim kesantunan Leech. Temuan ini membuktikan bahwa isu kebijakan publik di media sosial berbasis video pendek seperti TikTok cenderung memicu respons emosional dan kritik eksplisit yang mengabaikan kepatutan berbahasa di ruang digital.