Wulan Eldasari
Institut Agama Islam Al Hikmah Lampung, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Eksplorasi Loose Parts sebagai Lingkungan Belajar Terbuka untuk Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini di Cendekia Insani Lampung Sri Wahyuni; Wulan Eldasari; Feri Riski Dinata
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i3.1102

Abstract

Kreativitas anak usia dini berkembang ketika anak memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi material, menghasilkan kemungkinan yang beragam, melakukan percobaan, dan mengekspresikan gagasan tanpa terlalu dibatasi oleh contoh produk yang seragam. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana penggunaan loose parts mendukung proses kreativitas anak usia dini di Cendekia Insani Lampung serta menganalisis peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang terbuka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi aktivitas anak, wawancara semi-terstruktur dengan guru, dan dokumentasi kegiatan serta hasil karya. Analisis dilakukan melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan/verifikasi kesimpulan; keabsahan temuan diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa loose parts memberikan ruang bagi anak untuk memilih material, memberi makna baru pada benda, mengombinasikan serta memodifikasi susunan, mencoba kembali ketika mengalami kegagalan, dan menghasilkan karya yang beragam. Proses tersebut merefleksikan dimensi kreativitas berupa fluency, flexibility, originality, dan elaboration serta memunculkan pengalaman problem solving. Guru berperan sebagai fasilitator melalui penyediaan material, pertanyaan pemantik, pemberian waktu untuk mencoba, bantuan yang tidak mengambil alih proses, dan apresiasi terhadap proses kreatif. Temuan menegaskan bahwa efektivitas loose parts tidak hanya terletak pada karakter material yang terbuka, tetapi pada interaksi antara affordance material, agensi anak, eksplorasi iteratif, dan scaffolding guru. Loose parts dengan demikian dapat diposisikan sebagai lingkungan belajar terbuka yang mendukung kreativitas secara aktif, bermakna, dan berpusat pada anak.
Peran Guru dalam Pengembangan Kompetensi Sosial-Emosional Peserta Didik Melalui Pembelajaran Kolaboratif Wulan Eldasari; Sri Wahyuni; Feri Riski Dinata
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i4.1105

Abstract

Kompetensi sosial-emosional merupakan fondasi penting bagi kemampuan peserta didik untuk mengelola emosi, membangun hubungan positif, bekerja sama, menunjukkan empati, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran kolaboratif menyediakan konteks sosial yang memungkinkan kompetensi tersebut dipraktikkan, tetapi keberhasilannya bergantung pada kualitas pendampingan guru. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran guru dalam mengembangkan kompetensi sosial-emosional peserta didik melalui pembelajaran kolaboratif di SMP Negeri 1 Baradatu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan empat peran utama guru: fasilitator interaksi dan kerja sama, pembimbing komunikasi dan penghargaan terhadap pendapat, mediator konflik dan regulasi emosi, serta pemberi penguatan terhadap perilaku sosial positif. Aktivitas kolaboratif memberi ruang bagi peserta didik untuk mempraktikkan kerja sama, komunikasi, empati, pengelolaan emosi, penyelesaian perbedaan, dan tanggung jawab. Namun, perkembangan tersebut belum merata; peserta didik yang pasif, dominan, atau mudah terbawa emosi tetap memerlukan scaffolding yang adaptif. Temuan menegaskan bahwa pembelajaran kolaboratif tidak otomatis menghasilkan kompetensi sosial-emosional. Peran pedagogis guru menjadi mekanisme yang mengubah aktivitas kelompok menjadi pengalaman social and emotional learning yang bermakna.