Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk stigma sosial, pengaruhnya terhadap pola interaksi sosial, serta pembentukan solidaritas siswa berdasarkan status ekonomi di SMA Swasta Kartika 1-2 Medan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan siswa dan guru, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stigma sosial berdasarkan status ekonomi cenderung muncul secara halus dan bersifat kasuistik, terutama dalam bentuk candaan atau ejekan terkait kepemilikan barang, gaya hidup, pekerjaan orang tua, serta pengelompokan pertemanan berdasarkan kesamaan gaya hidup. Meskipun demikian, interaksi sosial antarsiswa secara umum berlangsung cair dan relatif setara, termasuk interaksi antara siswa dan guru. Pengaruh perbedaan ekonomi lebih terlihat pada kegiatan yang membutuhkan kontribusi materiil, seperti pengumpulan iuran kelompok. Solidaritas sosial antarsiswa diwujudkan melalui saling membantu dalam kegiatan akademik, meminjamkan perlengkapan belajar, memberikan dukungan emosional, dan berpartisipasi dalam kegiatan bersama. Solidaritas tersebut didorong oleh nilai kepedulian, pendidikan keluarga, dan kegiatan sekolah, tetapi masih menghadapi hambatan berupa gengsi, sikap individual, dan kecenderungan memilih kelompok pertemanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan empati, keterbukaan dalam pertemanan, pembagian kelompok secara inklusif, serta pencegahan dan penanganan perundungan diperlukan untuk membangun lingkungan sekolah yang lebih adil dan harmonis.