Dede Lilis
Universitas Islam Bandung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MENEGOSIASIKAN TUBUH IDEAL: PENGALAMAN PEREMPUAN MUSLIM MEMBER GYM DALAM PERSPEKTIF FENOMENOLOGI ALFRED SCHUTZ DAN NILAI-NILAI ISLAM Allisya Ridhona Aulia Djafar; Dede Lilis; Tresna Wiwitan
NIVEDANA : Jurnal Komunikasi dan Bahasa Vol. 7 No. 3 (2026): NIVEDANA : Jurnal Komunikasi dan Bahasa
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/nivedana.v7i3.3151

Abstract

Tubuh ideal pada perempuan tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga dibentuk melalui pengalaman hidup, interaksi sosial, praktik kebugaran, dan nilai keagamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis motif, pengalaman, dan pemaknaan perempuan Muslim dalam mengonstruksi tubuh ideal serta memahaminya dalam perspektif Islam. Penelitian menggunakan paradigma interpretif dengan pendekatan kualitatif dan fenomenologi sosial Alfred Schutz. Sembilan perempuan Muslim yang merupakan member aktif Ocean Gym Kota Gorontalo dipilih sebagai informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan konsep because motive, in-order-to motive, lifeworld, dan intersubjektivitas. Tubuh ideal dikonstruksi melalui pengalaman masa lalu, seperti kelebihan berat badan, ketidaknyamanan tubuh, masalah kesehatan, komentar negatif, dan rendahnya kepercayaan diri, serta orientasi masa depan berupa kesehatan, kebugaran, kekuatan, kenyamanan, penampilan, dan kepercayaan diri. Pemaknaan tubuh ideal bersifat subjektif dan dinamis, mencerminkan negosiasi antara kesehatan dan estetika, penerimaan dan perubahan tubuh, serta otonomi personal dan validasi sosial. Dalam perspektif Islam, tubuh dipahami sebagai amanah yang perlu dirawat secara seimbang tanpa berlebihan. Tubuh ideal merupakan konstruksi yang dinegosiasikan melalui pengalaman personal, praktik kebugaran, interaksi sosial, dan nilai-nilai Islam.