Anita Dwi Anggraini
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UJI EFEKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK KAYU SECANG (CAESALPINIA SAPPAN L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR TRICHOPHYTON RUBRUM Rosadatul Hikmah Ramadhani; Retno Sasongkowati; Anita Dwi Anggraini
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14386

Abstract

Dermatophyte infection is one of the most common skin health problems in tropical countries such as Indonesia, with Trichophyton rubrum being the primary causative agent of dermatophytosis affecting skin tissues. Continuous use of synthetic antifungal drugs may cause adverse effects and increase the risk of antifungal resistance, highlighting the need for natural antifungal alternatives. Sappan wood (Caesalpinia sappan L.) contains bioactive compounds, including flavonoids, brazilin, alkaloids, tannins, and terpenoids, which have potential antifungal properties. This study aimed to determine the effectiveness of sappan wood extract in inhibiting the growth of Trichophyton rubrum. This in vitro experimental study employed the disk diffusion method on Sabouraud Dextrose Agar (SDA), which was selected because it is a simple and widely used preliminary screening method for evaluating antifungal activity based on the formation of inhibition zones around the test disks. The study was conducted at the Parasitology Laboratory, Department of Medical Laboratory Technology, Health Polytechnic of the Ministry of Health Surabaya, in February 2026. Ethanolic extract of sappan wood was obtained through maceration using 96% ethanol and tested at concentrations of 20%, 40%, 60%, 80%, and 100%, with 2% ketoconazole as the positive control and sterile distilled water as the negative control, each performed in four replicates. The results showed that all concentrations of sappan wood extract failed to produce inhibition zones against Trichophyton rubrum, whereas the positive control produced a mean inhibition zone diameter of 20 mm and the negative control showed no inhibition zone. It can be concluded that sappan wood extract at concentrations of 20%–100% was not effective in inhibiting the growth of Trichophyton rubrum using the disk diffusion method. ABSTRAK Infeksi jamur dermatofita merupakan salah satu masalah kesehatan kulit yang banyak dijumpai di negara beriklim tropis seperti Indonesia, dengan Trichophyton rubrum sebagai penyebab dermatofitosis yang paling sering menyerang jaringan kulit. Penggunaan obat antijamur sintetik secara terus-menerus berisiko menimbulkan efek samping dan resistensi, sehingga diperlukan alternatif antijamur berbahan alami. Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) diketahui mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, brazilin, alkaloid, tanin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas ekstrak kayu secang dalam menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum. Penelitian bersifat eksperimental in vitro menggunakan metode difusi cakram pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA), yang dipilih karena merupakan metode sederhana dan umum digunakan sebagai uji awal (screening) untuk mengevaluasi aktivitas antijamur berdasarkan pembentukan zona hambat di sekitar cakram uji. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Parasitologi Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Surabaya pada Februari 2026. Ekstrak etanol kayu secang diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan diuji pada konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%, dengan ketokonazol 2% sebagai kontrol positif dan akuades steril sebagai kontrol negatif, masing-masing diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi ekstrak kayu secang tidak menghasilkan zona hambat terhadap pertumbuhan Trichophyton rubrum, sedangkan kontrol positif menghasilkan zona hambat dengan diameter rata-rata 20 mm dan kontrol negatif tidak menunjukkan zona hambat. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa ekstrak kayu secang pada konsentrasi 20%–100% tidak efektif menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum dengan metode difusi cakram.
PENGGUNAAN METHYLENE BLUE SEBAGAI PENGGANTI HEMATOKSILIN PADA SEDIAAN HISTOLOGI Naysilla Wardaniya; Juliana Christyaningsih; Lully Hanni Endarini; Anita Dwi Anggraini
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14653

Abstract

Histological staining plays an essential role in enhancing the visualization of cellular and tissue structures. Hematoxylin, the nuclear stain used in the Hematoxylin–Eosin (HE) method, has several limitations, including relatively high cost and limited storage stability, necessitating the development of more economical alternatives such as methylene blue. This laboratory experimental study aimed to evaluate the use of methylene blue as a substitute for hematoxylin in mouse liver histological sections. The control group was stained using the Hematoxylin–Eosin method, while the treatment groups received methylene blue at concentrations of 10%, 11%, and 13%. Slide quality was evaluated microscopically using a scoring method based on nuclear clarity, cytoplasmic appearance, and color uniformity, followed by Kruskal–Wallis and Mann–Whitney analyses. The control group produced 100% good-quality slides. The 10% methylene blue group yielded 16.7% good and 83.3% fairly good slides. The 11% concentration produced 83.3% fairly good and 16.7% poor slides, whereas the 13% concentration resulted in 66.6% fairly good and 33.3% poor slides. The Kruskal–Wallis test revealed a significant difference among the groups (p=0.000; p<0.05). These findings indicate that methylene blue, particularly at a concentration of 10%, has potential as an alternative nuclear stain to hematoxylin because it produced the best staining quality among the treatment groups. ABSTRAK Pewarnaan sediaan histologi berperan penting dalam memperjelas struktur sel dan jaringan. Hematoksilin sebagai pewarna inti pada metode Hematoksilin-Eosin (HE) memiliki keterbatasan, antara lain harga yang relatif mahal dan stabilitas penyimpanan yang kurang baik, sehingga diperlukan alternatif pewarna yang lebih ekonomis, seperti methylene blue. Penelitian ini bertujuan mengetahui penggunaan methylene blue sebagai pengganti hematoksilin pada sediaan histologi jaringan hati mencit. Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan kelompok kontrol pewarnaan Hematoksilin-Eosin dan kelompok perlakuan methylene blue konsentrasi 10%, 11%, dan 13%. Kualitas preparat dinilai secara mikroskopis menggunakan metode skoring berdasarkan kejelasan inti sel, sitoplasma, dan keseragaman warna, kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan Mann–Whitney. Hasil menunjukkan kelompok kontrol menghasilkan 100% preparat berkategori baik. Pada methylene blue 10% diperoleh 16,7% preparat berkategori baik dan 83,3% cukup baik, konsentrasi 11% menghasilkan 83,3% cukup baik dan 16,7% tidak baik, sedangkan konsentrasi 13% menghasilkan 66,6% cukup baik dan 33,3% tidak baik. Uji Kruskal–Wallis menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok (p=0,000; p<0,05). Dengan demikian, methylene blue berpotensi digunakan sebagai pewarna alternatif pengganti hematoksilin, terutama pada konsentrasi 10% yang menghasilkan kualitas preparat terbaik di antara kelompok perlakuan.