Lully Hanni Endarini
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH WAKTU PEMISAHAN PLASMA TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH MENGGUNAKAN TABUNG NAF DAN TABUNG EDTA Hanun Zhalma; Anik Handayati; Sri Sulami Endah Astuti; Lully Hanni Endarini
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14120

Abstract

The accuracy of blood glucose results is influenced by various factors, one of the most important of which is the pre-analytical stage. Blood glucose levels can decrease if plasma separation is delayed, because blood cells continue to carry out the glycolysis process. The method used in this study was an experiment with a posttest-only control group design, employing purposive sampling that involved 5 respondents and 4 treatment conditions for each type of tube based on Federer’s formula. The sample consisted of sixth-semester students in the D3 medical laboratory technology programme who met the inclusion and exclusion criteria. Blood glucose levels were measured using the GOD-PAP method with a BIOBASE chemistry analyser. The results of the analysis showed that blood glucose levels in both types of tubes decreased as the plasma separation delay time increased. For NaF plasma, the One-Way ANOVA test yielded a p-value > 0.05, indicating that variations in the plasma separation delay time had no significant effect. In contrast, the Kruskal-Wallis test for EDTA plasma yielded a p-value < 0.05, which indicated a significant difference in each delay time variation. Based on these results, NaF plasma was better able to maintain stable blood glucose levels during the plasma separation delay compared to EDTA plasma. This is caused by the sodium fluoride content in the NaF tube, which acts as an antiglycolytic agent, so it is able to inhibit the glycolysis process and maintain stable glucose levels in the blood. ABSTRAK Keakuratan hasil glukosa darah dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya yang paling penting pada tahap pra-analitik. Kadar glukosa darah dapat mengalami penurunan apabila pemisahan plasma ditunda, karena sel-sel darah tetap melakukan proses glikolisis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan desain Posttest Only Control Group Design menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan 5 responden dan 4 perlakuan setiap jenis tabung berdasarkan rumus Federer. Pemilihan sampel terhadap mahasiswa Program Studi D3 Teknologi Laboratorium Medis semester 6 sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pemeriksaan kadar glukosa darah dilakukan menggunakan metode GOD-PAP dengan BIOBASE Chemistry Analyzer. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar glukosa darah pada kedua jenis tabung mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya waktu penundaan pemisahan plasma. Pada plasma NaF hasil uji One Way ANOVA diperoleh nilai p>0.05, sehingga variasi waktu penundaan pemisahan plasma tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Sebaliknya, plasma EDTA uji statistik Kruskal Wallis menunjukkan nilai p<0.05, yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan pada setiap variasi waktu penundaan. Berdasarkan hasil tersebut, plasma NaF lebih mampu mempertahankan stabilitas kadar glukosa darah selama penundaan pemisahan plasma dibandingkan plasma EDTA. Hal ini disebabkan oleh kandungan natrium fluorida pada tabung NaF yang berperan sebagai agen antiglikolitik, sehingga mampu menghambat proses glikolisis dan menjaga kestabilan kadar glukosa dalam darah.
PENGGUNAAN METHYLENE BLUE SEBAGAI PENGGANTI HEMATOKSILIN PADA SEDIAAN HISTOLOGI Naysilla Wardaniya; Juliana Christyaningsih; Lully Hanni Endarini; Anita Dwi Anggraini
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14653

Abstract

Histological staining plays an essential role in enhancing the visualization of cellular and tissue structures. Hematoxylin, the nuclear stain used in the Hematoxylin–Eosin (HE) method, has several limitations, including relatively high cost and limited storage stability, necessitating the development of more economical alternatives such as methylene blue. This laboratory experimental study aimed to evaluate the use of methylene blue as a substitute for hematoxylin in mouse liver histological sections. The control group was stained using the Hematoxylin–Eosin method, while the treatment groups received methylene blue at concentrations of 10%, 11%, and 13%. Slide quality was evaluated microscopically using a scoring method based on nuclear clarity, cytoplasmic appearance, and color uniformity, followed by Kruskal–Wallis and Mann–Whitney analyses. The control group produced 100% good-quality slides. The 10% methylene blue group yielded 16.7% good and 83.3% fairly good slides. The 11% concentration produced 83.3% fairly good and 16.7% poor slides, whereas the 13% concentration resulted in 66.6% fairly good and 33.3% poor slides. The Kruskal–Wallis test revealed a significant difference among the groups (p=0.000; p<0.05). These findings indicate that methylene blue, particularly at a concentration of 10%, has potential as an alternative nuclear stain to hematoxylin because it produced the best staining quality among the treatment groups. ABSTRAK Pewarnaan sediaan histologi berperan penting dalam memperjelas struktur sel dan jaringan. Hematoksilin sebagai pewarna inti pada metode Hematoksilin-Eosin (HE) memiliki keterbatasan, antara lain harga yang relatif mahal dan stabilitas penyimpanan yang kurang baik, sehingga diperlukan alternatif pewarna yang lebih ekonomis, seperti methylene blue. Penelitian ini bertujuan mengetahui penggunaan methylene blue sebagai pengganti hematoksilin pada sediaan histologi jaringan hati mencit. Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan kelompok kontrol pewarnaan Hematoksilin-Eosin dan kelompok perlakuan methylene blue konsentrasi 10%, 11%, dan 13%. Kualitas preparat dinilai secara mikroskopis menggunakan metode skoring berdasarkan kejelasan inti sel, sitoplasma, dan keseragaman warna, kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan Mann–Whitney. Hasil menunjukkan kelompok kontrol menghasilkan 100% preparat berkategori baik. Pada methylene blue 10% diperoleh 16,7% preparat berkategori baik dan 83,3% cukup baik, konsentrasi 11% menghasilkan 83,3% cukup baik dan 16,7% tidak baik, sedangkan konsentrasi 13% menghasilkan 66,6% cukup baik dan 33,3% tidak baik. Uji Kruskal–Wallis menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok (p=0,000; p<0,05). Dengan demikian, methylene blue berpotensi digunakan sebagai pewarna alternatif pengganti hematoksilin, terutama pada konsentrasi 10% yang menghasilkan kualitas preparat terbaik di antara kelompok perlakuan.