Penangkapan udang mantis di Desa Parumaan dilakukan dengan teknik tradisional yang bertumpu pada kemampuan nelayan mengenali liang persembunyian udang di perairan dangkal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan teknik penangkapan udang mantis yang meliputi armada, konstruksi alat tangkap, sarana pendukung, daerah dan waktu penangkapan, tahapan pengoperasian, umpan, serta jenis hasil tangkapan. Penelitian dilaksanakan pada 2 September – 1 Oktober 2025 di Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka menggunakan metode survei terhadap 20 nelayan melalui wawancara dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan menggunakan dua jenis armada, yaitu perahu tanpa motor (sampan) dan perahu motor katinting. Alat tangkap utama adalah penjerat tradisional yang disebut seko, dengan konstruksi sederhana berbahan kayu, karet, bilah bambu, tali, gagang sikat gigi, dan tali senar. Daerah penangkapan berada di perairan dangkal bersubstrat pasir dan berkarang sekitar 1–2 km dari garis pantai. Operasi penangkapan berlangsung sekitar enam jam per trip dari pagi hingga siang dan paling efektif dilakukan pada saat air surut. Pengoperasian seko meliputi pencarian liang udang mantis, pemasangan umpan pada penjerat, penyelaman untuk menempatkan alat ke dalam liang, pemasangan penanda, perendaman sekitar 1–5 menit, pemeriksaan alat, dan penyimpanan hasil tangkapan dalam botol plastik. Umpan yang digunakan berupa ikan yang tersedia di perairan setempat. Dua jenis udang mantis yang tercatat dalam hasil tangkapan adalah Harpiosquilla raphidea dan Lysiosquillina maculata. Temuan ini menunjukkan bahwa teknik penangkapan di Desa Parumaan merupakan praktik penangkapan skala kecil yang sederhana, selektif terhadap liang sasaran, dan sangat bergantung pada pengetahuan lokal nelayan mengenai habitat serta pasang surut.