Christofel Oktavianus Nobel Pale
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Teknologi Pangan Pertanian dan Perikanan, Universitas Nusa Nipa, Jln Kesehatan No. 3 Maumere, Flores, NTT 86111

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KONTRIBUSI TUTUPAN KARANG TERHADAP KEANEKARAGAMAN IKAN KARANG DI LOKASI APARTEMEN IKAN LOKARIA Yoseph Ronaldo Wain; Christofel Oktavianus Nobel Pale; Angelinus Vincentius
AQUANIPA - Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol 8 No 2 (2026): AQUANIPA - Jurnal Kelautan dan Perikanan
Publisher : Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan ikan karang pada berbagai habitat terumbu karang, yang menetap dan mencari makan di area terumbu karang (sedentary). Tujuan penelitian untuk mengetahui kontribusi tutupan karang terhadap keanekaragaman ikan karang di Lokasi Apartemen Ikan Lokaria, dilaksanakan mulai 23 September – 23 Oktober 2025. Metode yang digunakan yaitu Underwater Visual Census (UVC), Line Intercept Transect (LIT), Point Intercept Transcet (PIT) pada setiap 1 m pada transek sepanjang 100 m dan 3 kali ulangan. Data dianalisis index keanekaragaman, dan regresi linear untuk melihat hubungan tutupan karang dengan keanekaragaman ikan karang. Jenis-jenis terumbu karang yang ditemukan yaitu Acropora sp, Porites sp, Montipora sp, Pocillopora sp, Seriatopora caliendrum, Goniastrea minuta, dan Plerogyra sp. dan yang paling dominan yaitu Acropora sp dan Porites sp. Persentase tutupan terumbu karang hidup berkisar antara 50% - 80%, sedangkan terumbu karang mati berkisar antara 20% - 50%. Persentase tutupan karang hidup 50 – 74% termasuk dalam kategori baik, sedangkan 75 – 100% termasuk dalam kategori sangat baik. Jenis ikan karang ditemukan 19 jenis, yang paling banyak yaitu kakap kuning (Lutjanidae), kebing (Pomacentridae), bibir tebal harlequin (Plectorhinchus chaetodonoides). Jenis lainnya ditemukan dalam jumlah sedikit yaitu ikan kerapu polkadot (Cephalopholis sexmaculata), sirip panjang (Heniochus acuminatus), kepe-kepe harlequin (Plectorhinchus chaetodonoides), dan striped eel catfish (Plotosus lineatus). Hasil analisis regresi diperoleh persamaan y = 0,0212x - 0,3553; nilai R² = 0,8318 yang menunjukkan hubungan tutupan terumbu karang dengan keanekaragaman ikan karang adalah sangat kuat. Sebesar 83,18% keanekaragaman ikan karang dipengaruhi oleh tutupan terumbu karang, dan 16,82% dipengaruhi oleh faktor lain seperti kualitas perairan, arus, kedalaman, dan aktivitas penangkapan ikan.
DIVERSIFIKASI PENGHIDUPAN SEBAGAI STRATEGI KETAHANAN PANGAN NELAYAN TRADISIONAL DI PESISIR WATU KRUS, KABUPATEN SIKKA Desqia Maya Litong; Christofel Oktavianus Nobel Pale; Maria Theresia Dua Tei
AQUANIPA - Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol 8 No 2 (2026): AQUANIPA - Jurnal Kelautan dan Perikanan
Publisher : Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketahanan pangan rumah tangga nelayan tradisional sangat dipengaruhi oleh ketergantungan terhadap sumber daya laut, fluktuasi hasil tangkapan, kondisi cuaca, dan kapasitas sosial ekonomi rumah tangga. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi ketahanan pangan serta menganalisis strategi yang dapat dikembangkan nelayan tradisional di Desa Watu Krus, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan data primer yang diperoleh melalui observasi, wawancara menggunakan kuesioner, dan dokumentasi terhadap responden nelayan tradisional. Data sekunder bersumber dari dokumen desa dan literatur yang digunakan. Analisis dilakukan secara deskriptif dan menggunakan SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman. Hasil penelitian menunjukkan kerentanan utama berasal dari cuaca ekstrem, kerusakan sarana penangkapan, keterbatasan modal dan teknologi, fluktuasi pendapatan, serta tingginya biaya operasional. Pada tingkat rumah tangga, strategi bertahan dilakukan melalui penghematan konsumsi; 58% responden memilih barang kebutuhan dengan harga lebih murah dan 42% mengatur pola makan sehari-hari. Akses pembiayaan berasal dari bank (42%), koperasi (33%), dan tetangga (25%), sedangkan penerimaan bantuan terbagi seimbang antara responden yang pernah dan tidak pernah menerima bantuan. Analisis SWOT menghasilkan koordinat X = 1,6 dan Y = -0,8 yang menempatkan posisi strategi pada Kuadran II atau Strength-Threat. Kondisi tersebut mengarahkan strategi utama pada diversifikasi penghidupan melalui pengolahan hasil perikanan, usaha non-perikanan, dan pengembangan wisata pesisir. Diversifikasi berperan sebagai strategi adaptif untuk mengurangi ketergantungan pada penangkapan ikan sekaligus memperkuat stabilitas ekonomi dan akses pangan rumah tangga nelayan.
TEKNIK PENANGKAPAN UDANG MANTIS (Stomatopoda) DI DESA PARUMAAN, KECAMATAN ALOK TIMUR, KABUPATEN SIKKA Esa; Christofel Oktavianus Nobel Pale; Erfin
AQUANIPA - Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol 8 No 2 (2026): AQUANIPA - Jurnal Kelautan dan Perikanan
Publisher : Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penangkapan udang mantis di Desa Parumaan dilakukan dengan teknik tradisional yang bertumpu pada kemampuan nelayan mengenali liang persembunyian udang di perairan dangkal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan teknik penangkapan udang mantis yang meliputi armada, konstruksi alat tangkap, sarana pendukung, daerah dan waktu penangkapan, tahapan pengoperasian, umpan, serta jenis hasil tangkapan. Penelitian dilaksanakan pada 2 September – 1 Oktober 2025 di Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka menggunakan metode survei terhadap 20 nelayan melalui wawancara dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan menggunakan dua jenis armada, yaitu perahu tanpa motor (sampan) dan perahu motor katinting. Alat tangkap utama adalah penjerat tradisional yang disebut seko, dengan konstruksi sederhana berbahan kayu, karet, bilah bambu, tali, gagang sikat gigi, dan tali senar. Daerah penangkapan berada di perairan dangkal bersubstrat pasir dan berkarang sekitar 1–2 km dari garis pantai. Operasi penangkapan berlangsung sekitar enam jam per trip dari pagi hingga siang dan paling efektif dilakukan pada saat air surut. Pengoperasian seko meliputi pencarian liang udang mantis, pemasangan umpan pada penjerat, penyelaman untuk menempatkan alat ke dalam liang, pemasangan penanda, perendaman sekitar 1–5 menit, pemeriksaan alat, dan penyimpanan hasil tangkapan dalam botol plastik. Umpan yang digunakan berupa ikan yang tersedia di perairan setempat. Dua jenis udang mantis yang tercatat dalam hasil tangkapan adalah Harpiosquilla raphidea dan Lysiosquillina maculata. Temuan ini menunjukkan bahwa teknik penangkapan di Desa Parumaan merupakan praktik penangkapan skala kecil yang sederhana, selektif terhadap liang sasaran, dan sangat bergantung pada pengetahuan lokal nelayan mengenai habitat serta pasang surut.