Dewi Sartika
Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Self-Compassion terhadap Work engagement pada Perawat Divisi Rawat Inap Zahra Zahirah Andhika; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 785-794
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24004

Abstract

Abstract. Self-compassion is an attitude of compassion toward oneself when facing difficulties or stress at work, while work engagement is a positive psychological state characterized by enthusiasm, dedication, and full involvement in one’s work. Nurses in the inpatient division face simultaneous physical, administrative, and emotional work demands, which have the potential to reduce their psychological energy and work engagement. This study aims to determine the effect of self-compassion on work engagement among nurses in the inpatient division at RSI Assyifa in Sukabumi. The study used a quantitative approach with a correlational design. The study sample consisted of 84 nurses in the inpatient division, selected using a population-based approach. Data were collected from primary sources via questionnaires using the Self-compassion Scale (SCS) and the Utrecht Work engagement Scale-17 (UWES-17), and analyzed using simple linear regression. The results showed a significant positive relationship between self-compassion and work engagement (p = 0.000 < 0.05), with a correlation coefficient (R) of 0.612 and a coefficient of determination (R²) of 37.4%. These findings indicate that nurses with higher levels of self-compassion tend to cope with job demands more adaptively, thereby maintaining their energy, dedication, and engagement at work. Thus, self-compassion is one of the factors that plays a role in enhancing work engagement among inpatient division nurses, although there are other factors that also influence it. Abstrak. Self-compassion merupakan sikap welas asih terhadap diri sendiri ketika menghadapi kesulitan atau tekanan dalam pekerjaan, sedangkan work engagement merupakan kondisi psikologis positif yang ditandai vigor, dedication, dan absorption dalam pekerjaan. Perawat divisi rawat inap menghadapi tuntutan kerja yang bersifat fisik, administratif, dan emosional secara bersamaan, sehingga berpotensi menurunkan energi psikologis dan keterlibatan kerja. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh self-compassion terhadap work engagement pada perawat divisi rawat inap di RSI Assyifa Kota Sukabumi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 84 perawat divisi rawat inap, dipilih menggunakan pendekatan studi populasi. Data dikumpulkan dari sumber primer melalui kuesioner menggunakan instrumen Self-Compassion Scale (SCS) atau Skala Welas Diri (SWD) dan Utrecht Work engagement Scale-17 (UWES-17), diolah menggunakan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan terdapat pengaruh positif antara self-compassion terhadap work engagement (p = 0,000 < 0,05), dengan koefisien korelasi (R) sebesar 0,612 dan koefisien determinasi (R²) sebesar 37,4%. Temuan ini mengindikasikan perawat dengan self-compassion lebih tinggi cenderung menghadapi tuntutan pekerjaan secara lebih adaptif sehingga tetap mempertahankan vigor, dedication, dan absorption dalam bekerja. Dengan demikian, self-compassion merupakan salah satu faktor yang berperan meningkatkan work engagement pada perawat divisi rawat inap, meskipun masih terdapat faktor lain yang turut memengaruhinya.
Pengaruh Self-Compassion terhadap Psychological Well-Being pada Perempuan Involuntary Single Dewasa Awal di Kota Bandung Fadiya Zahrani; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 895-904
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24126

Abstract

Abstract. Early adult women who are involuntarily single often experience psychological and social problems that affect their psychological well-being. Involuntarily single women may experience loneliness, negative self-perceptions, negative social stereotypes, and psychological distress resulting from their single status. One factor that is presumed to contribute to psychological well-being is self-compassion, which refers to an individual's ability to treat themselves with kindness and compassion while facing difficulties or failures. This study aimed to examine the effect of self-compassion on psychological well-being among early adult women who are involuntarily single. This study used a quantitative approach using a causal research design. The participants were 391 early adult women selected using a convenience sampling technique. Data were collected using the Self-Compassion Scale and Ryff's Psychological Well-Being Scale. The results showed that self-compassion had a positive effect on psychological well-being (p < .001, R² = .414). The results indicate that self-compassion contributed 41.4% to psychological well-being. These findings suggest that lower levels of self-compassion are associated with lower levels of psychological well-being among involuntarily single early adult women in Bandung. Abstrak. Perempuan involuntary single dewasa awal seringkali menghadapi berbagai masalah psikologis dan sosial yang mempengaruhi psychological well-being. Perempuan involuntary single mengalami perasaan kesepian, persepsi diri negatif, menerima stereotip sosial negatif, dan mengalami stres psikologis akibat status lajang. Salah satu dari faktor yang diduga berkontribusi dalam psychological well-being ialah self-compassion, yaitu kemampuan individu dalam bersikap baik dan penuh kasih sayang pada dirinya sendiri ketika menghadapi hambatan atau kegagalan. Penelitian ini ditujukan guna mengetahui pengaruh self-compassion terhadap psychological well-being pada perempuan dewasa awal yang berada dalam kondisi involuntary single. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desan penelitian kausalitas. Subjek penelitian berjumlah 391 perempuan dewasa awal dan diperoleh menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen Self-Compassion Scale dan instrumen Ryff’s Psychological Well-Being Scale. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa self-compassion memiliki pengaruh positif terhadap psychological well-being (p < .001 dan R2 = .414). Oleh karenanya, didapatkan jika self-compassion memberikan kontribusi sebesar 41.4% terhadap psychological well-being.Temuan ini menyatakan bahwa rendahnya self-compassion menurunkan tingkat psychological well-being pada perempuan involuntary single dewasa awal di Kota Bandung.
Pengaruh Entrepreneurial Self-Efficacy terhadap Keputusan Karir Tarina Pratami Indira Mulyana; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 1157-1164
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26303

Abstract

Abstract. The rapid growth of digital technology has created many new career opportunities, one of which is becoming a content creator, a career that is increasingly popular among Generation Z. However, having an interest in becoming a content creator does not always mean that individuals are confident in their entrepreneurial abilities. This lack of confidence may affect how they make career decisions. Therefore, this study aimed to examine the effect of entrepreneurial self-efficacy on the career decision to become a content creator among Generation Z in West Java. This study used a quantitative approach with a causal research design. A total of 105 Generation Z individuals aged 18–29 years in West Java who had started creating content participated in this study. Data were collected using the Entrepreneurial Self-Efficacy Scale (ESES) and the Career Decision Scale (CDS) and analyzed using simple linear regression. The results showed that entrepreneurial self-efficacy had a significant positive effect on career certainty (p < .001) and a significant negative effect on career indecision (p < .001). Entrepreneurial self-efficacy also explained 38.1% of career certainty and 44.9% of career indecision. These findings indicate that individuals with higher entrepreneurial self-efficacy are more confident in choosing a career as a content creator and are less likely to experience doubt when making career decisions. Abstrak. Perkembangan teknologi digital telah menciptakan berbagai peluang karier baru, salah satunya sebagai content creator, yang semakin diminati oleh Generasi Z. Namun, tingginya minat tersebut tidak selalu diikuti dengan keyakinan terhadap kemampuan diri dalam menjalankan aktivitas kewirausahaan sehingga memengaruhi kemantapan individu dalam mengambil keputusan karier. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh entrepreneurial self-efficacy terhadap keputusan karier menjadi content creator pada Generasi Z di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Partisipan penelitian berjumlah 105 Generasi Z berusia 18–29 tahun di Jawa Barat yang telah memulai aktivitas sebagai content creator. Data dikumpulkan menggunakan Entrepreneurial Self-Efficacy Scale (ESES) dan Career Decision Scale (CDS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entrepreneurial self-efficacy berpengaruh positif secara signifikan terhadap career certainty (p < 0,001) dan berpengaruh negatif secara signifikan terhadap career indecision (p < 0,001). Selain itu, entrepreneurial self-efficacy memberikan kontribusi sebesar 38,1% terhadap career certainty dan 44,9% terhadap career indecision. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi entrepreneurial self-efficacy yang dimiliki individu, semakin tinggi kemantapan dalam menentukan karier sebagai content creator serta semakin rendah keraguan dalam mengambil keputusan karir.