Abstract. Fear of marriage refers to persistent fear, anxiety, doubt, or discomfort when individuals consider marriage as a long-term commitment. Experiences in the family of origin, particularly how interparental conflict is remembered and interpreted, may shape expectations regarding marital stability. This study examined the effect of perceived interparental conflict on fear of marriage among early adult women in Bandung. A quantitative, non-experimental cross-sectional design was used. Participants were 161 unmarried women aged 21-29 years who lived in Bandung, had witnessed interparental conflict, and were recruited through convenience sampling with screening questions. Data were collected using the 8-item Perceptions of Interparental Conflict-Short Form and the 20-item Gamophobia Scale. The Indonesian adaptations showed good internal consistency (Cronbach's alpha = .872 and .940, respectively). Simple linear regression indicated that perceived interparental conflict had a positive and significant effect on fear of marriage (B = 1.143, t = 13.657, p < .001). The model explained 54.0% of the variance in fear of marriage (R² = .540). Thus, stronger perceived exposure to frequent, angry, and dysfunctional interparental conflict was associated with higher fear of marriage. These findings underline the relevance of family-of-origin experiences when understanding concerns about long-term marital commitment. Abstrak. Fear of marriage merupakan rasa takut, cemas, ragu, atau tidak nyaman yang menetap ketika individu mempertimbangkan pernikahan sebagai komitmen jangka panjang. Pengalaman dalam keluarga asal, khususnya cara konflik orang tua diingat dan dimaknai, dapat membentuk ekspektasi mengenai kestabilan pernikahan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh persepsi konflik orang tua terhadap fear of marriage pada perempuan dewasa awal di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non-eksperimental cross-sectional. Responden berjumlah 161 perempuan belum menikah berusia 21-29 tahun, berdomisili di Kota Bandung, pernah menyaksikan konflik orang tua, dan diperoleh melalui convenience sampling dengan pertanyaan penyaring. Data dikumpulkan menggunakan Perceptions of Interparental Conflict-Short Form yang terdiri atas 8 item dan Gamophobia Scale yang terdiri atas 20 item. Adaptasi Bahasa Indonesia menunjukkan reliabilitas yang baik dengan Cronbach's alpha masing-masing sebesar 0,872 dan 0,940. Analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa persepsi konflik orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap fear of marriage (B = 1,143; t = 13,657; p < 0,001). Model menjelaskan 54,0% variasi fear of marriage (R² = 0,540). Artinya, semakin tinggi paparan konflik orang tua yang dipersepsikan sering, penuh kemarahan, dan disfungsional, semakin tinggi fear of marriage. Temuan ini menegaskan pentingnya pengalaman keluarga asal dalam memahami kekhawatiran terhadap komitmen pernikahan jangka panjang.