Tia Inayatillah
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perfeksionisme, Ruminasi, dan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa: Kajian Literatur Rizka Nur Fauziyah; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1063-1072
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24282

Abstract

Abstract. Academic procrastination is one of the most common problems experienced by final-year university students during the completion of their undergraduate thesis. Previous studies have consistently associated perfectionism with academic procrastination; however, the findings remain inconclusive. This inconsistency suggests that other psychological mechanisms may explain the relationship, particularly rumination. This study aimed to examine the relationship between perfectionism, rumination, and academic procrastination using a narrative literature review approach. A total of fifteen studies were analyzed narratively to identify conceptual patterns, similarities and differences across findings, and existing research gaps. The synthesis indicates that perfectionism activates a discrepancy between individuals' actual and ideal self-schemas, which can be directed through two opposing cognitive pathways. Brooding disconnects individuals from their future self, reinforcing repetitive negative self-focused thinking that increases academic procrastination, whereas reflection keeps individuals oriented toward problem-solving, functioning adaptively to reduce procrastination tendencies. These findings emphasize the importance of distinguishing between the two dimensions of rumination to better understand the psychological mechanisms underlying academic procrastination among final-year university students. Abstrak. Prokrastinasi akademik merupakan salah satu permasalahan yang banyak dialami mahasiswa tingkat akhir selama proses penyusunan skripsi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perfeksionisme berhubungan dengan prokrastinasi akademik, namun hasil yang diperoleh masih belum konsisten. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya mekanisme psikologis lain yang berperan dalam hubungan kedua variabel tersebut, salah satunya adalah ruminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara perfeksionisme, ruminasi, dan prokrastinasi akademik melalui pendekatan narrative literature review. Sebanyak lima belas artikel yang relevan dianalisis secara naratif untuk mengidentifikasi pola hubungan antarkonsep, persamaan maupun perbedaan temuan penelitian, serta kesenjangan penelitian yang masih ada. Hasil sintesis menunjukkan bahwa perfeksionisme memicu kesenjangan antara skema diri aktual dan skema diri ideal, yang kemudian dapat diarahkan pada dua jalur kognitif yang berlawanan. Brooding memutus hubungan individu dengan diri di masa depan sehingga memperkuat pola pikir negatif berulang yang meningkatkan prokrastinasi akademik, sedangkan reflection menjaga individu tetap berorientasi pada pemecahan masalah sehingga berperan adaptif dalam menurunkan kecenderungan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa pemisahan dimensi ruminasi penting dilakukan untuk memahami mekanisme psikologis yang mendasari prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir.
Hubungan Strategi Belajar Menghadapi Ujian dengan Stres Akademik pada Siswa SMP Alifya Sukma Noor Islami; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1485-1492
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25969

Abstract

Abstract. Bullying in higher education is a form of interpersonal trauma that can have serious consequences for students' mental health, including prolonged anger, resentment, and difficulties in the forgiveness process. Forgiveness is essential to prevent the long-term psychological consequences of traumatic experiences, and one psychological factor that may facilitate forgiveness is post-traumatic growth (PTG). This study aimed to examine the effect of post-traumatic growth on forgiveness among university students who have experienced bullying. The study employed a quantitative approach using a predictive correlational design. A total of 122 university students with experiences of bullying were selected through purposive sampling. The instruments used were an adapted version of the Post-Traumatic Growth Inventory (PTGI) based on the theory of Tedeschi and Calhoun, and the Transgression-Related Interpersonal Motivations (TRIM-18) scale based on McCullough's theory. The categorization results indicated that both post-traumatic growth and forgiveness were at high levels. The findings revealed a positive and significant effect of post-traumatic growth on forgiveness (B = 0.332, p < .001, and R2 = 0.125), with post-traumatic growth accounting for 12.5% of the variance in forgiveness. These findings suggest that higher levels of post-traumatic growth are associated with higher levels of forgiveness among university students who have experienced bullying. Therefore, post-traumatic growth serves as an important psychological factor that facilitates the forgiveness process among victims of bullying in higher education Abstrak. Perundungan di perguruan tinggi merupakan bentuk trauma interpersonal yang berdampak serius terhadap kesehatan mental mahasiswa, termasuk munculnya kemarahan berkepanjangan, dendam, dan hambatan dalam proses pemaafan. Kemampuan pemaafan dibutuhkan agar dampak traumatis tidak berkelanjutan, dan salah satu faktor yang diduga dapat memfasilitasinya adalah post-traumatic growth (PTG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh post-traumatic growth terhadap pemaafan pada mahasiswa korban perundungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan predictive correlational design. Sampel diperoleh melalui teknik purposive sampling dengan jumlah 122 mahasiswa korban perundungan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah adaptasi Post-traumatic growth Inventory (PTGI) yang didasari oleh teori Tedeschi & Calhoun dan skala Transregression-Related Interpersonal Motivation (TRIM)-18 yang didasari oleh teori Mccullough. Hasil kategorisasi menunjukkan bahwa post-traumatic growth dan pemaafan berada pada kategori tinggi. Hasil uji menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan post-traumatic growth terhadap pemaafan (B = 0.332, p < 0.001, dan R2 = 0.125) dengan kontribusi sebesar 12.5% terhadap pemaafan. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat post-traumatic growth yang dimiliki mahasiswa korban perundungan, maka semakin tinggi pula pemaafan, sehingga post-traumatic growth berperan sebagai salah satu faktor psikologis penting dalam memfasilitasi proses pemaafan pada korban perundungan di perguruan tinggi.