Dewi Rosiana
Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Studi Literatur tentang Gamifikasi Kahoot! dalam Mendukung Motivasi Belajar dan Keterlibatan Siswa Nasywa Atalie Salwa; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1397-1404
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25722

Abstract

Abstract. Gamification has been widely adopted in education to enhance students' learning motivation and engagement by integrating game elements into learning activities. Among various gamified platforms, Kahoot! is one of the most widely used assessment tools. However, previous studies have reported inconsistent findings regarding its effectiveness. Therefore, this study reviews previous research on the use of Kahoot! to improve students' learning motivation and engagement. This study employed a literature review method using journal articles retrieved from Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, and ERIC. The selected studies were analyzed using a narrative synthesis approach. The findings show that Kahoot! generally improves students' learning motivation and engagement through interactive features such as immediate feedback, points, leaderboards, and time limits. However, its effectiveness depends on factors including implementation duration, learner characteristics, subject area, instructional design, and the gamification elements used. Overall, Kahoot! has the potential to enhance learning motivation and engagement when implemented appropriately. Abstrak. Gamifikasi semakin banyak diterapkan dalam pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan siswa melalui integrasi elemen permainan. Salah satu media yang banyak digunakan adalah Kahoot!, meskipun efektivitasnya masih menunjukkan hasil yang beragam. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan mengkaji penelitian terdahulu mengenai penggunaan Kahoot! sebagai media evaluasi pembelajaran terhadap motivasi belajar dan keterlibatan siswa. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menganalisis artikel ilmiah dari Google Scholar, ScienceDirect, SpringerLink, dan ERIC menggunakan sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kahoot! umumnya meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan siswa melalui fitur immediate feedback, sistem poin, leaderboard, dan batas waktu. Namun, efektivitasnya dipengaruhi oleh durasi penggunaan, karakteristik peserta didik, mata pelajaran, desain pembelajaran, serta elemen gamifikasi yang diterapkan. Dengan demikian, Kahoot! berpotensi menjadi media evaluasi yang mendukung motivasi belajar dan keterlibatan siswa apabila diterapkan sesuai konteks pembelajaran.
Hubungan Efikasi Diri Pengasuhan dengan Stres Pengasuhan pada Ibu di Era Digital Revina Nika Anjani; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1433-1442
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25905

Abstract

Abstract. Advances in digital technology have brought about changes in family dynamics, particularly in parenting practices, as mothers shoulder increasing responsibilities in supervising their children’s use of digital devices. This situation positions parenting self-efficacy as a psychological resource that helps mothers cope with the demands of parenting and is believed to be associated with parenting stress. This study aims to examine the relationship between parenting self-efficacy and parenting stress among mothers with children aged 9–12 years who actively use digital devices. This quantitative correlational study involved 130 mothers in Bandung City, selected using convenience sampling. The inclusion criteria were mothers aged 30–45 years with children aged 9–12 years who used digital devices for at least 2 hours per day, as well as mothers who were active users of digital devices themselves. Data were collected using the Self-Efficacy for Parenting Tasks Index (SEPTI, 36 items, α = 0.889) and the Parenting Stress Scale (PSS), an adapted version of the Parental Stress Scale (15 items, α = 0.828). Descriptive results showed that the majority of mothers had high parenting self-efficacy (72.3%). Meanwhile, the majority of mothers had low levels of parenting stress (70%). Results from the Spearman’s Rho correlation test indicated a significant negative relationship between parenting self-efficacy and parenting stress (rs = -0.585; p < 0.01). These findings indicate that among mothers with children aged 9–12 years who actively use digital devices, the higher the parenting self-efficacy, the lower the level of perceived parenting stress. Abstrak. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan dalam dinamika keluarga, khususnya dalam praktik pengasuhan, dengan bertambahnya tanggung jawab ibu dalam mendampingi penggunaan perangkat digital anak. Kondisi tersebut menjadikan efikasi diri pengasuhan sebagai salah satu sumber daya psikologis yang berperan dalam membantu ibu menghadapi tuntutan pengasuhan dan diduga berhubungan dengan stres pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri pengasuhan (parenting self-efficacy) dan stres pengasuhan (parenting stress) pada ibu yang memiliki anak usia 9–12 tahun yang aktif menggunakan perangkat digital. Penelitian kuantitatif korelasional ini melibatkan 130 ibu di Kota Bandung yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Kriteria subjek adalah ibu berusia 30-45 tahun dengan anak usia 9-12 tahun yang menggunakan gawai minimal 2 jam per hari serta ibu yang aktif menggunakan perangkat digital. Data dikumpulkan menggunakan instrumen Self-Efficacy for Parenting Tasks Index (SEPTI, 36 butir, α = 0,889) dan Skala Stres Pengasuhan (SSP) hasil adaptasi Parental Stress Scale (PSS, 15 butir, α = 0,828). Hasil deskriptif menunjukkan mayoritas ibu memiliki efikasi diri pengasuhan yang tinggi (72,3%). Sementara itu, mayoritas ibu memiliki tingkat stres pengasuhan yang rendah (70%). Hasil uji korelasi Spearman’s Rho menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara efikasi diri pengasuhan dan stres pengasuhan (rs = -0,585; p < 0,01). Temuan ini menunjukkan bahwa pada ibu yang memiliki anak usia 9-12 tahun yang aktif menggunakan perangkat digital, semakin tinggi efikasi diri pengasuhan maka semakin rendah tingkat stres pengasuhan yang dirasakan.
Hubungan Strategi Belajar Menghadapi Ujian dengan Stres Akademik pada Siswa SMP Alifya Sukma Noor Islami; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1485-1492
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25969

Abstract

Abstract. Bullying in higher education is a form of interpersonal trauma that can have serious consequences for students' mental health, including prolonged anger, resentment, and difficulties in the forgiveness process. Forgiveness is essential to prevent the long-term psychological consequences of traumatic experiences, and one psychological factor that may facilitate forgiveness is post-traumatic growth (PTG). This study aimed to examine the effect of post-traumatic growth on forgiveness among university students who have experienced bullying. The study employed a quantitative approach using a predictive correlational design. A total of 122 university students with experiences of bullying were selected through purposive sampling. The instruments used were an adapted version of the Post-Traumatic Growth Inventory (PTGI) based on the theory of Tedeschi and Calhoun, and the Transgression-Related Interpersonal Motivations (TRIM-18) scale based on McCullough's theory. The categorization results indicated that both post-traumatic growth and forgiveness were at high levels. The findings revealed a positive and significant effect of post-traumatic growth on forgiveness (B = 0.332, p < .001, and R2 = 0.125), with post-traumatic growth accounting for 12.5% of the variance in forgiveness. These findings suggest that higher levels of post-traumatic growth are associated with higher levels of forgiveness among university students who have experienced bullying. Therefore, post-traumatic growth serves as an important psychological factor that facilitates the forgiveness process among victims of bullying in higher education Abstrak. Perundungan di perguruan tinggi merupakan bentuk trauma interpersonal yang berdampak serius terhadap kesehatan mental mahasiswa, termasuk munculnya kemarahan berkepanjangan, dendam, dan hambatan dalam proses pemaafan. Kemampuan pemaafan dibutuhkan agar dampak traumatis tidak berkelanjutan, dan salah satu faktor yang diduga dapat memfasilitasinya adalah post-traumatic growth (PTG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh post-traumatic growth terhadap pemaafan pada mahasiswa korban perundungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan predictive correlational design. Sampel diperoleh melalui teknik purposive sampling dengan jumlah 122 mahasiswa korban perundungan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah adaptasi Post-traumatic growth Inventory (PTGI) yang didasari oleh teori Tedeschi & Calhoun dan skala Transregression-Related Interpersonal Motivation (TRIM)-18 yang didasari oleh teori Mccullough. Hasil kategorisasi menunjukkan bahwa post-traumatic growth dan pemaafan berada pada kategori tinggi. Hasil uji menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan post-traumatic growth terhadap pemaafan (B = 0.332, p < 0.001, dan R2 = 0.125) dengan kontribusi sebesar 12.5% terhadap pemaafan. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat post-traumatic growth yang dimiliki mahasiswa korban perundungan, maka semakin tinggi pula pemaafan, sehingga post-traumatic growth berperan sebagai salah satu faktor psikologis penting dalam memfasilitasi proses pemaafan pada korban perundungan di perguruan tinggi.