Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perbedaan Digital Hoarding Behavior antara Remaja dan Dewasa Awal Generasi Z Pengguna Media Sosial di Kota Bekasi Nashwa Putri Wibowo; Adi Fahrudin
PADAMARA: Jurnal Psikologi dan Sosial Budaya Vol. 3 No. 2 (2026): Agustus || PADAMARA: Jurnal Psikologi dan Sosial Budaya
Publisher : PT. Giat Konseling Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70420/padamara.v3i2.306

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan tingginya intensitas penggunaan media sosial pada Generasi Z mendorong meningkatnya kebiasaan menyimpan berbagai file digital, yang dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi digital hoarding behavior. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan digital hoarding behavior antara kelompok remaja dan kelompok dewasa awal Generasi Z pengguna media sosial di Kota Bekasi. Mengacu pada Neave et al. (2019), digital hoarding behavior diukur melalui dua dimensi, yaitu difficulty deleting dan accumulating. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif, melibatkan 128 responden (64 remaja usia 14-17 tahun dan 64 dewasa awal usia 18-29 tahun) yang dipilih melalui convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Digital Hoarding Questionnaire (DHQ) yang terdiri atas 10 item, dengan nilai corrected item-total correlation berkisar 0,310-0,766 dan Cronbach's Alpha sebesar 0,860. Karena data tidak berdistribusi normal, perbedaan antar kelompok diuji menggunakan Mann-Whitney U. Hasil analisis menunjukkan nilai Z sebesar -3,003 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,003 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Kelompok remaja memperoleh mean rank yang lebih tinggi (74,32) dibandingkan kelompok dewasa awal (54,68), yang menunjukkan bahwa remaja memiliki kecenderungan digital hoarding behavior yang lebih tinggi dibandingkan dewasa awal. Temuan ini menunjukkan bahwa tahap perkembangan berkaitan dengan kebiasaan pengelolaan file digital pada Generasi Z, sekaligus menegaskan pentingnya edukasi literasi digital yang disesuaikan
Perbedaan Strategi Koping pada Generasi Z Berdasarkan Lama Penggunaan Roblox Saffa Fauziah Hafizh; Adi Fahrudin
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13829

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah menjadikan permainan daring sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari Generasi Z. Roblox merupakan salah satu platform permainan daring yang tidak hanya menyediakan hiburan, tetapi juga memungkinkan interaksi sosial dan eksplorasi virtual. Dalam konteks psikologis, aktivitas bermain game dapat digunakan sebagai bentuk coping, tetapi juga dapat menjadi strategi penghindaran apabila digunakan untuk melarikan diri dari tekanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan strategi koping pada Generasi Z pengguna Roblox berdasarkan lama penggunaan platform tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif dengan 178 pengguna Roblox berusia 14–29 tahun yang berdomisili di Kota Bekasi dan dipilih menggunakan purposive sampling. Responden dikelompokkan berdasarkan lama menggunakan Roblox, yaitu kurang dari enam bulan (n = 49), kurang dari satu tahun (n = 67), dan lebih dari satu tahun (n = 62). Strategi koping diukur menggunakan 21-item Brief COPE versi adaptasi Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kruskal–Wallis karena data tidak berdistribusi normal. Hasil menunjukkan tidak terdapat perbedaan strategi koping yang signifikan berdasarkan lama penggunaan Roblox, baik pada skor total strategi koping, problem-focused coping, emotion-focused coping, maupun dysfunctional coping (p > 0,05). Skor rata-rata tertinggi ditemukan pada dysfunctional coping (M = 24,36; SD = 4,517). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penggunaan Roblox bukan faktor yang secara signifikan membedakan strategi koping pengguna. Pemilihan strategi koping kemungkinan lebih berkaitan dengan appraisal terhadap stres, karakteristik personal, motif penggunaan game, dan pola penggunaan daripada semata-mata lamanya seseorang mengenal atau menggunakan platform.
Peran Dukungan Sosial Terhadap Resiliensi Remaja Di Panti Asuhan  Jakarta: Studi Asosiatif Pada Remaja Dengan Pengasuhan  Alternatif Shindy Charoline; Adi Fahrudin
PADAMARA: Jurnal Psikologi dan Sosial Budaya Vol. 3 No. 2 (2026): Agustus || PADAMARA: Jurnal Psikologi dan Sosial Budaya
Publisher : PT. Giat Konseling Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70420/

Abstract

Remaja yang tinggal di panti asuhan menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan perkembangan yang kompleks, termasuk kehilangan pengasuhan orang tua, keterbatasan ekonomi keluarga, penyesuaian lingkungan baru, serta tuntutan sosial dan akademik. Tantangan-tantangan ini menuntut mereka memiliki kapasitas resiliensi yang memadai agar dapat bertahan dan bangkit dari kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dukungan sosial terhadap resiliensi pada remaja di panti asuhan Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian asosiatif. Sampel penelitian terdiri dari 74 remaja yang tinggal di panti asuhan di Jakarta, dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi berusia 12–18 tahun, menetap sekurang-kurangnya satu tahun di panti asuhan, dan masih memiliki keluarga di luar panti asuhan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) yang terdiri dari 12 item (alpha = 0,776) dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) versi 10 item (alpha = 0,780). Teknik analisis data yang digunakan adalah uji regresi linear sederhana. Hasil analisis regresi menunjukkan adanya peran positif dan signifikan dukungan sosial terhadap resiliensi remaja panti asuhan di Jakarta (p = 0,000 < 0,05; β = 0,453 atau koefisien B = 0,452, dengan persamaan regresi Y = 18,002 + 0,452 X). Nilai R-squared sebesar 0,174 menunjukkan bahwa dukungan sosial memberikan kontribusi efektif sebesar 17,4% terhadap pembentukan resiliensi remaja panti asuhan, sedangkan 82,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan sosial, khususnya dari pengasuh (significant other) dan teman sebaya, dalam memperkuat daya adaptasi psikologis remaja di panti asuhan. Pihak panti asuhan disarankan untuk menyediakan program pendampingan kelompok secara terstruktur dan sesi konseling rutin bulanan guna memfasilitasi komunikasi emosional yang bermakna bagi remaja.