Remaja yang tinggal di panti asuhan menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan perkembangan yang kompleks, termasuk kehilangan pengasuhan orang tua, keterbatasan ekonomi keluarga, penyesuaian lingkungan baru, serta tuntutan sosial dan akademik. Tantangan-tantangan ini menuntut mereka memiliki kapasitas resiliensi yang memadai agar dapat bertahan dan bangkit dari kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dukungan sosial terhadap resiliensi pada remaja di panti asuhan Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian asosiatif. Sampel penelitian terdiri dari 74 remaja yang tinggal di panti asuhan di Jakarta, dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi berusia 12–18 tahun, menetap sekurang-kurangnya satu tahun di panti asuhan, dan masih memiliki keluarga di luar panti asuhan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) yang terdiri dari 12 item (alpha = 0,776) dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) versi 10 item (alpha = 0,780). Teknik analisis data yang digunakan adalah uji regresi linear sederhana. Hasil analisis regresi menunjukkan adanya peran positif dan signifikan dukungan sosial terhadap resiliensi remaja panti asuhan di Jakarta (p = 0,000 < 0,05; β = 0,453 atau koefisien B = 0,452, dengan persamaan regresi Y = 18,002 + 0,452 X). Nilai R-squared sebesar 0,174 menunjukkan bahwa dukungan sosial memberikan kontribusi efektif sebesar 17,4% terhadap pembentukan resiliensi remaja panti asuhan, sedangkan 82,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan sosial, khususnya dari pengasuh (significant other) dan teman sebaya, dalam memperkuat daya adaptasi psikologis remaja di panti asuhan. Pihak panti asuhan disarankan untuk menyediakan program pendampingan kelompok secara terstruktur dan sesi konseling rutin bulanan guna memfasilitasi komunikasi emosional yang bermakna bagi remaja.