Soybean productivity at the farmer level is influenced by seed quality, crop management, pest pressure, and access to production inputs. This study described soybean cultivation practices and production constraints in Balleangin Village, Balocci District, Pangkajene and Islands Regency, South Sulawesi. A qualitative descriptive survey was conducted on 9–25 July 2025. Five active soybean farmer-group leaders were selected purposively as key informants. Primary data were collected through interviews and field observations, while secondary data were obtained from literature and related institutions. Farmers cultivated soybean on post-rice fields using saved Anjasmoro seed, tractor tillage, herbicide-based land clearing, dibbling or corn seeder planting, organic and inorganic fertilizers, and manual or chemical pest and weed control. The reported productivity ranged from 1.00 to 1.25 t/ha, with a mean of 1.15 t/ha. The main constraints were limited access to certified seed, armyworm and wild-animal attacks, symptoms identified by farmers as Fusarium wilt, uncertain weather, and limited production infrastructure. The findings indicate that the main improvement priorities are seed quality assurance, balanced fertilization, integrated pest management, and better postharvest facilities. Because the study involved five key informants, the results represent a local case and should not be generalized to all soybean farmers. Produktivitas kedelai di tingkat petani dipengaruhi oleh mutu benih, pengelolaan tanaman, tekanan organisme pengganggu, dan akses sarana produksi. Penelitian ini mendeskripsikan teknik budidaya dan kendala produksi kedelai di Desa Balleangin, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Survei deskriptif kualitatif dilaksanakan pada 9–25 Juli 2025. Lima ketua kelompok tani kedelai aktif dipilih secara purposif sebagai informan kunci. Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi lapangan, sedangkan data sekunder berasal dari literatur dan instansi terkait. Petani membudidayakan kedelai pada lahan sawah setelah padi menggunakan benih Anjasmoro simpanan panen, pengolahan tanah dengan traktor, pembersihan lahan menggunakan herbisida, penanaman secara tugal atau corn seeder, pemupukan organik dan anorganik, serta pengendalian gulma dan hama secara manual maupun kimiawi. Produktivitas yang dilaporkan berkisar 1,00–1,25 ton/ha dengan rata-rata 1,15 ton/ha. Kendala utama meliputi keterbatasan benih bersertifikat, serangan ulat grayak dan hewan liar, gejala yang diidentifikasi petani sebagai layu fusarium, cuaca tidak menentu, serta keterbatasan sarana produksi. Prioritas perbaikan meliputi jaminan mutu benih, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, dan penguatan fasilitas pascapanen. Karena penelitian hanya melibatkan lima informan kunci, hasilnya merupakan gambaran kasus lokal dan tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh petani kedelai.