A. Muhibuddin Muhibuddin
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pertumbuhan Dan Produksi Cabai Merah Pada Kombinasi Pupuk Organik Cair Rebung Bambu dan Trichoderma sp. Hismawati Hismawati; A. Muhibuddin Muhibuddin; Muh. Arief Nasution
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.4817

Abstract

Declining chili production and deteriorating soil fertility require more sustainable nutrient management. This study evaluated combinations of bamboo shoot liquid organic fertilizer (LOF) and Trichoderma sp. on the growth and fruit production of red chili (Capsicum annuum L.). The experiment was conducted from March to July 2024 at the Integrated Farming System Educational Garden, Faculty of Agriculture, Universitas Bosowa, Gowa, South Sulawesi. A randomized block design comprised five treatments and three replications: F0, control; F1, 100 mL L LOF + 40 g Trichoderma sp.; F2, 150 mL L  + 50 g; F3, 200 mL L +  60 g; and F4, 250 mL L + 70 g. The combinations significantly affected plant height at 30 and 45 days after planting (DAP), leaf number at 30 and 45 DAP, stem diameter at 15, 30, and 45 DAP, and fruit weight per plant. F4 produced the highest values at 45 DAP for plant height (52.07 cm), leaf number (51.33 leaves), and stem diameter (6.45 mm), as well as the highest fruit weight (32.66 g plant). Therefore, F4 was the best combination among the treatments tested, although the separate effects of LOF and Trichoderma sp. could not be distinguished. Penurunan produksi cabai dan degradasi kesuburan tanah memerlukan pengelolaan hara yang lebih berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kombinasi pupuk organik cair (POC) rebung bambu dan Trichoderma sp. terhadap pertumbuhan dan produksi buah cabai merah (Capsicum annuum L.). Penelitian dilaksanakan pada Maret hingga Juli 2024 di Kebun Pendidikan Integrated Farming System, Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Rancangan acak kelompok terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu F0 sebagai kontrol; F1, POC 100 mL L + Trichoderma sp. 40 g; F2, 150 mL L + 50 g; F3, 200 mL L + 60 g; dan F4, 250 mL L  + 70 g. Kombinasi perlakuan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 30 dan 45 hari setelah tanam (HST), jumlah daun pada 30 dan 45 HST, diameter batang pada 15, 30, dan 45 HST, serta berat buah per tanaman. F4 menghasilkan nilai tertinggi pada 45 HST untuk tinggi tanaman (52,07 cm), jumlah daun (51,33 helai), dan diameter batang (6,45 mm), serta berat buah tertinggi (32,66 g tanaman). Dengan demikian, F4 merupakan kombinasi terbaik di antara perlakuan yang diuji, tetapi kontribusi masing-masing bahan belum dapat dipisahkan.
Budidaya Kentang (Solanum tuberosum L.) Ramah Lingkungan di Dataran Medium Bonto Marannu Nurul Hicmah; A. Muhibuddin Muhibuddin; Zulkifli Maulana
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5538

Abstract

Potato cultivation in medium-altitude areas offers an opportunity to expand production while reducing environmental pressure in highland areas, but pest management must minimize reliance on synthetic pesticides. This study described environmentally friendly cultivation practices and the use of biopesticides by Granola potato farmers in Bonto Marannu Village, Ulu Ere District, Bantaeng Regency. A descriptive case-study approach was applied to 10 farmers from the Abbulo Sibatang and Samaturu farmer groups. Data were collected through interviews, field observations, and secondary records, then summarized using descriptive statistics and a comparison of reported cultivation indicators. Respondents had an average age of 42.6 years, cultivated 2.50 ha of land, had 10.5 years of farming experience, and produced 14.3 t/ha on average. Reported field indicators showed that biopesticide application reduced pest attack intensity from 40% to 20% and leaf damage from 35% to 15%, while the proportion of grade-A tubers increased from 60% to 75%. However, the comparative production record decreased from 18–19 to 15–16 t/ha. These findings indicate that biopesticides can improve pest suppression and tuber quality, but ecological benefits do not automatically increase yield. Standardization of formulation, dose, application frequency, and economic evaluation is required before the practice can be recommended more broadly. Budidaya kentang di dataran medium berpeluang memperluas wilayah produksi sekaligus mengurangi tekanan lingkungan di dataran tinggi, tetapi pengendalian organisme pengganggu tanaman perlu mengurangi ketergantungan pada pestisida sintetis. Penelitian ini mendeskripsikan teknik budidaya ramah lingkungan dan penggunaan biopestisida oleh petani kentang varietas Granola di Desa Bonto Marannu, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif terhadap 10 petani dari kelompok tani Abbulo Sibatang dan Samaturu. Data diperoleh melalui wawancara, observasi lapangan, dan data sekunder, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui peringkasan karakteristik responden dan perbandingan indikator budidaya yang dilaporkan. Responden memiliki rata-rata umur 42,6 tahun, luas lahan 2,50 ha, pengalaman bertani 10,5 tahun, dan hasil panen 14,3 ton/ha. Data lapangan menunjukkan bahwa penggunaan biopestisida menurunkan intensitas serangan hama dari 40% menjadi 20% dan kerusakan daun dari 35% menjadi 15%, sedangkan proporsi umbi grade A meningkat dari 60% menjadi 75%. Namun, catatan produksi komparatif menurun dari 18–19 menjadi 15–16 ton/ha. Hasil tersebut menunjukkan bahwa biopestisida berpotensi memperbaiki pengendalian hama dan kualitas umbi, tetapi manfaat ekologis belum otomatis meningkatkan produktivitas. Standardisasi formulasi, dosis, frekuensi aplikasi, dan evaluasi ekonomi diperlukan sebelum praktik ini direkomendasikan secara lebih luas.
Demonstrasi Teknik Budidaya Kentang Di Desa Bonto Marannu Krisnur Ira Kornelius TB Kornelius; A. Muhibuddin Muhibuddin; Zulkifli Maulana
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5541

Abstract

Potato productivity in Bonto Marannu Village is constrained by seed quality, crop management, and pest pressure. This study described farmers' cultivation practices and evaluated the production recorded in a demonstration plot that introduced improved land preparation, selected seed, organic fertilization, and plant-based pest management. A descriptive case-study design was conducted from July to September 2024 with 10 potato farmers from the Hortikultura and Gunung Loka farmer groups. Data were collected through field observation, interviews, questionnaires, and documentation, then summarized descriptively. Respondents were 30-52 years old, had 8-20 years of farming experience, and cultivated 0.7-3.0 ha. Farmers commonly prepared raised beds, planted Granola seed at 25 x 30 cm spacing, applied manure and liquid organic fertilizer, controlled pests using gamal-leaf biopesticide, and harvested at 90-100 days after planting. Farmer productivity was reported at approximately 14-15 t/ha, whereas the demonstration plot produced 15.90 t/ha. The 0.90-1.90 t/ha difference indicates potential improvement under more structured management, but it cannot be attributed solely to the biopesticide because the demonstration did not include a replicated control. The practice should therefore be validated through controlled trials, standardized input doses, and economic analysis before wider recommendation. Produktivitas kentang di Desa Bonto Marannu masih dibatasi oleh mutu benih, pengelolaan budidaya, dan tekanan organisme pengganggu tanaman. Penelitian ini mendeskripsikan teknik budidaya petani dan mengevaluasi hasil demonstrasi yang memperkenalkan perbaikan pengolahan lahan, pemilihan benih, pemupukan organik, serta pengendalian hama berbahan nabati. Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif pada Juli-September 2024 dengan melibatkan 10 petani dari Kelompok Tani Hortikultura dan Gunung Loka. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Responden berumur 30-52 tahun, memiliki pengalaman bertani 8-20 tahun, dan mengelola lahan 0,7-3,0 ha. Praktik budidaya meliputi pembuatan bedengan, penanaman benih Granola dengan jarak 25 x 30 cm, pemupukan menggunakan pupuk kandang dan pupuk organik cair, pengendalian hama dengan biopestisida daun gamal, serta panen pada umur 90-100 hari setelah tanam. Produktivitas petani dilaporkan sekitar 14-15 ton/ha, sedangkan demonstrasi menghasilkan 15,90 ton/ha. Selisih 0,90-1,90 ton/ha menunjukkan potensi perbaikan melalui pengelolaan yang lebih terstruktur, tetapi belum dapat dikaitkan hanya dengan biopestisida karena demonstrasi tidak menggunakan kontrol dan ulangan eksperimental. Teknik tersebut perlu divalidasi melalui percobaan terkontrol, standardisasi dosis input, dan analisis ekonomi sebelum direkomendasikan secara luas.
Demonstrasi Budidaya Bawang Merah Berbasis Biopestisida Daun Gamal Di Bonto Marannu Fidelis Andi Sa'pang; A. Muhibuddin Muhibuddin; Zulkifli Maulana
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5542

Abstract

Shallot farmers in Bonto Marannu apply diverse cultivation practices and still rely partly on synthetic inputs for pest and disease management. This study described farmer characteristics, cultivation practices, and the production achieved in a demonstration plot using gamal leaf biopesticide. The study was conducted from July to August 2024 using a descriptive case-study approach involving 12 farmers from the Montea and Sipassiriki farmer groups, six respondents from each group. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation. Respondents had a mean age of 44.7 years, cultivated 2.51 ha on average, and had 17.9 years of farming experience. The main practices included a spacing of 15 × 20 cm, Phonska and urea fertilization, and chemical fungicide application for fungal disease control. Mean farmer production was 9.33 t/ha in Montea and 8.67 t/ha in Sipassiriki, whereas the demonstration plot produced 11.50 t/ha. The higher demonstration-plot yield is descriptive and cannot be attributed solely to gamal leaf biopesticide because the plot size, untreated control, and replication were not reported. The practice is nevertheless relevant as an environmentally friendlier component of integrated crop management, provided that formulation, dose, application frequency, and target pests are standardized. Petani bawang merah di Desa Bonto Marannu menerapkan teknik budidaya yang beragam dan masih menggunakan sebagian input sintetis untuk pengendalian hama dan penyakit. Penelitian ini mendeskripsikan karakteristik petani, teknik budidaya, serta hasil produksi pada demonstrasi plot yang menggunakan biopestisida daun gamal. Penelitian dilaksanakan pada Juli–Agustus 2024 menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif terhadap 12 petani dari Kelompok Tani Montea dan Sipassiriki, masing-masing enam responden. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Responden memiliki rata-rata umur 44,7 tahun, luas lahan 2,51 ha, dan pengalaman bertani 17,9 tahun. Teknik utama meliputi jarak tanam 15 × 20 cm, pemupukan Phonska dan urea, serta penggunaan fungisida kimia untuk pengendalian penyakit jamur. Rata-rata produksi petani mencapai 9,33 ton/ha pada Kelompok Tani Montea dan 8,67 ton/ha pada Kelompok Tani Sipassiriki, sedangkan demonstrasi plot menghasilkan 11,50 ton/ha. Hasil demonstrasi plot yang lebih tinggi bersifat deskriptif dan belum dapat dikaitkan hanya dengan biopestisida daun gamal karena ukuran plot, kontrol tanpa biopestisida, dan ulangan tidak dilaporkan. Biopestisida daun gamal tetap relevan sebagai komponen budidaya yang lebih ramah lingkungan apabila formulasi, dosis, frekuensi aplikasi, dan organisme sasaran distandardisasi.
Teknik Budidaya Dan Kendala Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Di Balleangin Marcelina Marcelina; A. Muhibuddin Muhibuddin; Murniati Murniati
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.6887

Abstract

Soybean productivity at the farmer level is influenced by seed quality, crop management, pest pressure, and access to production inputs. This study described soybean cultivation practices and production constraints in Balleangin Village, Balocci District, Pangkajene and Islands Regency, South Sulawesi. A qualitative descriptive survey was conducted on 9–25 July 2025. Five active soybean farmer-group leaders were selected purposively as key informants. Primary data were collected through interviews and field observations, while secondary data were obtained from literature and related institutions. Farmers cultivated soybean on post-rice fields using saved Anjasmoro seed, tractor tillage, herbicide-based land clearing, dibbling or corn seeder planting, organic and inorganic fertilizers, and manual or chemical pest and weed control. The reported productivity ranged from 1.00 to 1.25 t/ha, with a mean of 1.15 t/ha. The main constraints were limited access to certified seed, armyworm and wild-animal attacks, symptoms identified by farmers as Fusarium wilt, uncertain weather, and limited production infrastructure. The findings indicate that the main improvement priorities are seed quality assurance, balanced fertilization, integrated pest management, and better postharvest facilities. Because the study involved five key informants, the results represent a local case and should not be generalized to all soybean farmers. Produktivitas kedelai di tingkat petani dipengaruhi oleh mutu benih, pengelolaan tanaman, tekanan organisme pengganggu, dan akses sarana produksi. Penelitian ini mendeskripsikan teknik budidaya dan kendala produksi kedelai di Desa Balleangin, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Survei deskriptif kualitatif dilaksanakan pada 9–25 Juli 2025. Lima ketua kelompok tani kedelai aktif dipilih secara purposif sebagai informan kunci. Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi lapangan, sedangkan data sekunder berasal dari literatur dan instansi terkait. Petani membudidayakan kedelai pada lahan sawah setelah padi menggunakan benih Anjasmoro simpanan panen, pengolahan tanah dengan traktor, pembersihan lahan menggunakan herbisida, penanaman secara tugal atau corn seeder, pemupukan organik dan anorganik, serta pengendalian gulma dan hama secara manual maupun kimiawi. Produktivitas yang dilaporkan berkisar 1,00–1,25 ton/ha dengan rata-rata 1,15 ton/ha. Kendala utama meliputi keterbatasan benih bersertifikat, serangan ulat grayak dan hewan liar, gejala yang diidentifikasi petani sebagai layu fusarium, cuaca tidak menentu, serta keterbatasan sarana produksi. Prioritas perbaikan meliputi jaminan mutu benih, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, dan penguatan fasilitas pascapanen. Karena penelitian hanya melibatkan lima informan kunci, hasilnya merupakan gambaran kasus lokal dan tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh petani kedelai.