Septy Widiana
Universitas Lambung Mangkurat

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PEMBERIAN PIJAT MARMET UNTUK MENGATASI MASALAH MENYUSUI TIDAK EFEKTIF Septy Widiana; Rieh Firdausi
Jurnal Sahabat Keperawatan Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Sahabat Keperawatan, Agustus 2026
Publisher : Program Studi Keperawatan, Universitas Timor Jln. Mgr. Sugyopranoto-Haliwen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jsk.v8i2.10873

Abstract

Ibu post partum mengalami perubahan pada tubuh diantaranya payudara yang mengalami penurunan kadar progesteron dengan peningkatan hormon prolaktin setelah persalinan sebagai tanda mulainya proses laktasi. Akan tetapi, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan menyatakan bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2023 mengalami penurunan menjadi 16.733 bayi (60,7%). Sehingga, bedasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak semua ibu post partum mampu segera memberikan ASI kepada bayinya dan salah satu permasalahan yang paling sering terjadi adalah pengeluaran ASI yang tidak optimal. Pengeluaran ASI yang tidak optimal dapat dilakukan intervensi pijat marmet. Penelitian ini bertujuan mengetahui hasil pemberian intervensi pijat marmet untuk mengatasi menyusui tidak efektif. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada satu ibu post partum dengan ASI tidak menetes dan diberikan intervensi pijat marmet 3 kali sehari selama 2 hari. Hasil menunjukkan tidak terjadi peningkatan tetesan ASI pada Ny.N setelah diberikan intervensi pijat marmet selama 2 hari. Adapun faktor yang dapat memengaruhi untuk pengeluaran ASI pada Ny.N seperti jenis persalinan, paritas, nyeri, keadaan psikologis ibu, dan lama pemberian pijat marmet. Dengan demikian, meskipun dalam kasus ini pijat marmet tidak terbukti efektif dalam melancarkan pengeluaran ASI, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan variabel lain seperti durasi dan frekuensi pijatan, kondisi psikologis, dan nutrisi ibu menyusui, serta waktu pemberian intervensi yang lebih lama atau melakukan kombinasi dengan jenis pijat payudara lainnya.