Abstract Life in a pesantren can place substantial emotional demands on adolescents. This study examined how Muhammadiyah Boarding School (MBS) Pleret, Yogyakarta, applies the Rahmatan lil-’Alamin educational framework in relation to santri resilience. Using interpretive qualitative phenomenology, the study involved eleven purposively selected participants: four high school santri as primary informants and seven institutional leaders, teachers, and counselors as supporting informants. Data were collected through semi-structured interviews, non-participant naturalistic observation, and institutional documents, then analyzed through data condensation involving selection, simplification, abstraction, and transformation. Three recurring patterns were identified: the integration of compassionate values into learning, the use of dhikr, muhasabah, and reflective journaling to manage emotional strain, and peer and mentor support in daily residential life. The findings indicate that daily religious and relational practices were experienced by participants as resources for coping and emotional balance. The study offers a context-sensitive account of faith-based student support without making clinical claims. Abstrak Kehidupan di pesantren dapat menimbulkan tuntutan emosional bagi remaja. Penelitian ini mengkaji bagaimana Muhammadiyah Boarding School (MBS) Pleret Yogyakarta menerapkan kerangka pendidikan Rahmatan lil-‘Alamin dalam kaitannya dengan resiliensi santri. Penelitian menggunakan fenomenologi kualitatif interpretatif dengan sebelas partisipan yang dipilih secara purposif, terdiri atas empat santri sebagai informan utama dan tujuh pimpinan, guru, serta konselor sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi naturalistik nonpartisipan, dan analisis dokumen institusi, kemudian dianalisis melalui kondensasi data: menyeleksi, menyederhanakan, mengabstraksi, dan mentransformasi data. Tiga pola utama ditemukan: integrasi nilai kasih sayang dalam pembelajaran, penggunaan zikir, muhasabah, dan jurnal reflektif untuk mengelola tekanan emosional, serta dukungan teman sebaya dan pendamping dalam kehidupan asrama. Temuan menunjukkan bahwa praktik keagamaan dan relasional sehari-hari dipersepsikan partisipan sebagai sumber koping dan keseimbangan emosional. Studi ini memberikan gambaran kontekstual tentang dukungan siswa berbasis nilai agama tanpa mengajukan klaim klinis.