M Bayu Firmansyah
Universitas PGRI Wiranegara Pasuruan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Wacana Multimodal dalam Film Budi Pekerti Karya Wregas Bhanuteja Hanum Ibtisam Mumtaz; M Bayu Firmansyah; Ilmiyatur Rosidah
JAMPARING: Jurnal Akuntansi Manajemen Pariwisata dan Pembelajaran Konseling Vol. 4 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jamparing.v4i2.9003

Abstract

Film sebagai media komunikasi audiovisual menyampaikan makna tidak hanya melalui dialog tokohnya, tetapi juga melalui perpaduan berbagai moda, seperti bahasa, suara, musik, gerak, dan gambar. Namun, kajian yang mengkaji keterpaduan berbagai moda dalam membangun wacana pada film Indonesia masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk wacana multimodal dalam film Budi Pekerti karya Wregas Bhanuteja. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan desain Analisis Wacana Multimodal (AWM) berdasarkan teori multimodalitas Kress dan van Leeuwen (2001). Data penelitian berupa moda bahasa, suara, musik, gerak, dan gambar yang terdapat dalam film Budi Pekerti. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, kemudian dianalisis berdasarkan keterpaduan antarmoda dalam membangun makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana multimodal dalam film Budi Pekerti dibangun melalui keterpaduan lima moda, yaitu bahasa, suara, musik, gerak, dan gambar. Keterpaduan antarmoda tersebut tidak hanya membangun makna secara utuh, tetapi juga merepresentasikan berbagai persoalan sosial, seperti etika komunikasi, dinamika hubungan antarmanusia, dan dampak media digital terhadap kehidupan tokoh. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keterpaduan berbagai moda berperan penting dalam membentuk wacana multimodal sehingga pesan yang disampaikan film dapat dipahami secara lebih komprehensif oleh penonton.
Transformasi Makna Dalam Enkranisasi Novel Dilan 1990 Karya Pidi Baiq Perspektif Wacana Multimodal Rizqia Dwiani; M Bayu Firmansyah; Badriyah Wulandari
JAMPARING: Jurnal Akuntansi Manajemen Pariwisata dan Pembelajaran Konseling Vol. 4 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jamparing.v4i2.9013

Abstract

Penelitian ini mengkaji transformasi makna yang terjadi dalam proses enkranisasi novel Dilan 1990 karya Pidi Baiq ke dalam film Dilan 1990 dari perspektif wacana multimodal. Proses alih wahana dari novel ke film tidak hanya mengubah bentuk penyajian cerita, tetapi juga menggeser cara makna dikonstruksi dan dimaknai ulang oleh penonton melalui perpaduan berbagai moda semiotik, seperti bahasa, gambar, musik, suara, dan gerak. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini berupaya menjawab tiga permasalahan, yaitu (1) bagaimana transformasi unsur intrinsik (judul, tema, dan alur) memengaruhi pergeseran makna dalam enkranisasi novel ke film, (2) bagaimana proses transformasi semiotika sosial berlangsung selama enkranisasi berlangsung, dan (3) bagaimana wacana multimodal berperan dalam membentuk ulang makna cerita pada film hasil enkranisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Wacana Multimodal yang mengacu pada teori Kress dan Van Leeuwen (2001) serta Jewitt dan Kress (2003). Objek penelitian adalah novel Dilan 1990 karya Pidi Baiq (2014) dan film Dilan 1990 yang disutradarai oleh Fajar Bustomi (2018) sebagai sumber data primer. Data penelitian berupa data verbal (kata, frasa, kalimat, dialog, dan narasi) dan data nonverbal (ekspresi, gestur, visual, musik, dan suara) yang dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, yakni membaca novel dan menonton film secara berulang, kemudian dianalisis berdasarkan empat modalitas, yaitu bahasa, gambar, gerak, dan suara, guna mengungkap bagaimana makna ditransformasikan dari media tekstual ke media audiovisual. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendeskripsikan pola transformasi makna yang terjadi akibat penciutan, penambahan, dan perubahan (modifikasi) unsur cerita, sekaligus memperkaya kajian wacana multimodal sebagai kerangka analisis dalam memahami pergeseran makna pada karya sastra yang dialihwahanakan ke bentuk audiovisual