Penelitian ini mengkaji transformasi makna yang terjadi dalam proses enkranisasi novel Dilan 1990 karya Pidi Baiq ke dalam film Dilan 1990 dari perspektif wacana multimodal. Proses alih wahana dari novel ke film tidak hanya mengubah bentuk penyajian cerita, tetapi juga menggeser cara makna dikonstruksi dan dimaknai ulang oleh penonton melalui perpaduan berbagai moda semiotik, seperti bahasa, gambar, musik, suara, dan gerak. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini berupaya menjawab tiga permasalahan, yaitu (1) bagaimana transformasi unsur intrinsik (judul, tema, dan alur) memengaruhi pergeseran makna dalam enkranisasi novel ke film, (2) bagaimana proses transformasi semiotika sosial berlangsung selama enkranisasi berlangsung, dan (3) bagaimana wacana multimodal berperan dalam membentuk ulang makna cerita pada film hasil enkranisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Wacana Multimodal yang mengacu pada teori Kress dan Van Leeuwen (2001) serta Jewitt dan Kress (2003). Objek penelitian adalah novel Dilan 1990 karya Pidi Baiq (2014) dan film Dilan 1990 yang disutradarai oleh Fajar Bustomi (2018) sebagai sumber data primer. Data penelitian berupa data verbal (kata, frasa, kalimat, dialog, dan narasi) dan data nonverbal (ekspresi, gestur, visual, musik, dan suara) yang dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, yakni membaca novel dan menonton film secara berulang, kemudian dianalisis berdasarkan empat modalitas, yaitu bahasa, gambar, gerak, dan suara, guna mengungkap bagaimana makna ditransformasikan dari media tekstual ke media audiovisual. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendeskripsikan pola transformasi makna yang terjadi akibat penciutan, penambahan, dan perubahan (modifikasi) unsur cerita, sekaligus memperkaya kajian wacana multimodal sebagai kerangka analisis dalam memahami pergeseran makna pada karya sastra yang dialihwahanakan ke bentuk audiovisual