Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERCEPTIONS OF SONG-BASED VOCABULARY LEARNING: A QUALITATIVE STUDY IN ISLAMIC SECONDARY EDUCATION Devita Puji Purnamawati; Titah Afandi; H. Abdul Kafi; Nur Jamilah; Rois Rahmawan
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 9 No. 3 (2026): Inpress Vol. 9 No. 3 Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v9i3.62112

Abstract

Penguasaan kosakata sangat penting dalam pembelajaran Bahasa Inggris seperti Bahasa Asing (EFL), namun banyak siswa SMP di Indonesia kesulitan dengan pengetahuan pemahaman yang terbatas, motivasi rendah, dan hafalan. Meskipun studi kuantitatif mengukur peningkatan skor dari intervensi berbasis lagu, studi kualitatif yang mengeksplorasi bagaimana siswa remaja memahami dan memproses lagu dalam konteks pesantren (sekolah berasrama Islam) masih langka. Studi kasus deskriptif kualitatif ini meneliti persepsi siswa kelas tujuh tentang penggunaan lagu berbahasa Inggris untuk pembelajaran matematika di SMP UBQ Nurul Islam, Mojokerto, Indonesia, sekaligus meneliti bagaimana norma sosial budaya membentuk media pemilihan. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur dengan sepuluh siswa dan guru mereka, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Temuan menunjukkan persepsi yang sebagian besar positif, karena melodi, ritme, dan pengulangan mendukung retensi pemahaman, pembuatan makna kontekstual, dan pengucapan. Yang terpenting, pembelajaran ini memisahkan keterlibatan afektif (kenikmatan di kelas) dari pemrosesan kognitif (tantangan dengan tempo cepat dan idiom figuratif seperti 'mata harimau'). Faktor pendukung meliputi minat musik intrinsik dan dukungan institusional untuk media yang selaras dengan karakter, sementara faktor penghambat meliputi tempo cepat, kepadatan leksikal, dan keengganan pasif. Analisis kasus lagu 'Roar' karya Katy Perry mengilustrasikan model instruksional empat tahap (penyaringan, mendengarkan, analisis leksikal, dan rekontekstualisasi produktif) yang berhasil menyelaraskan media populer dengan nilai-nilai karakter Islam. Pengarahan dan penyaringan yang disengaja terbukti penting untuk mengoptimalkan lagu sebagai media yang dapat beradaptasi secara kontekstual di lingkungan sekolah menengah Islam.
AFFECTIVE AND MOTIVATIONAL DIMENSIONS OF VIDEO ANIMATION USE IN INDONESIAN EFL SPEAKING CLASSROOMS Muhammad Rizal Satria Tama; Titah Afandi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 9 No. 3 (2026): Inpress Vol. 9 No. 3 Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v9i3.62432

Abstract

Integrasi animasi video digital dalam pengajaran berbicara Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) masih kurang dieksplorasi dari perspektif kualitatif dan kontekstual, khususnya di sekolah menengah Islam Indonesia. Tujuan: Studi ini mengamati persepsi guru dan siswa tentang penggunaan animasi video dalam pengajaran berbicara EFL dan mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat kontekstual yang membentuk implementasinya di sebuah sekolah menengah pertama Islam di Jawa Timur, Indonesia. Metode: Desain deskriptif kualitatif yang digunakan. Data dikumpulkan dari satu guru Bahasa Inggris dan enam siswa kelas tujuh yang dipilih secara purposif melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kelas non-partisipan, dan analisis dokumen. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña (2014). Temuan Utama: Baik guru maupun siswa memiliki persepsi yang sangat positif terhadap animasi video, menemukannya sebagai penunjang motivasi, model fonologis autentik, fasilitator pemahaman kontekstual, dan pengubahan iklim kelas. Faktor pendukung utama adalah motivasi intrinsik siswa yang tinggi, aksesibilitas gratis melalui YouTube, dan pemodelan pengucapan dengan pengisi suara yang autentik. Faktor penghambat utama meliputi ketidaksesuaian kecepatan bicara untuk pembelajar dengan kemampuan yang lebih rendah, pemahaman idiomatik yang spesifik secara budaya, dan infrastruktur audiovisual yang rapuh. Implikasi: Temuan ini memberikan bukti kualitatif bahwa animasi video, ketika didukung secara pedagogis, berfungsi sebagai alat instruksional dua saluran yang efektif yang mampu mengurangi kecemasan berbicara dan mengaktifkan motivasi intrinsik dalam konteks EFL yang spesifik secara budaya dan terbatas sumber daya. Temuan ini mengatasi kesamaan metodologi dengan melengkapi penelitian ukuran efek kuantitatif dengan laporan pengalaman yang berpusat pada partisipan.