Penguasaan kosakata sangat penting dalam pembelajaran Bahasa Inggris seperti Bahasa Asing (EFL), namun banyak siswa SMP di Indonesia kesulitan dengan pengetahuan pemahaman yang terbatas, motivasi rendah, dan hafalan. Meskipun studi kuantitatif mengukur peningkatan skor dari intervensi berbasis lagu, studi kualitatif yang mengeksplorasi bagaimana siswa remaja memahami dan memproses lagu dalam konteks pesantren (sekolah berasrama Islam) masih langka. Studi kasus deskriptif kualitatif ini meneliti persepsi siswa kelas tujuh tentang penggunaan lagu berbahasa Inggris untuk pembelajaran matematika di SMP UBQ Nurul Islam, Mojokerto, Indonesia, sekaligus meneliti bagaimana norma sosial budaya membentuk media pemilihan. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur dengan sepuluh siswa dan guru mereka, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Temuan menunjukkan persepsi yang sebagian besar positif, karena melodi, ritme, dan pengulangan mendukung retensi pemahaman, pembuatan makna kontekstual, dan pengucapan. Yang terpenting, pembelajaran ini memisahkan keterlibatan afektif (kenikmatan di kelas) dari pemrosesan kognitif (tantangan dengan tempo cepat dan idiom figuratif seperti 'mata harimau'). Faktor pendukung meliputi minat musik intrinsik dan dukungan institusional untuk media yang selaras dengan karakter, sementara faktor penghambat meliputi tempo cepat, kepadatan leksikal, dan keengganan pasif. Analisis kasus lagu 'Roar' karya Katy Perry mengilustrasikan model instruksional empat tahap (penyaringan, mendengarkan, analisis leksikal, dan rekontekstualisasi produktif) yang berhasil menyelaraskan media populer dengan nilai-nilai karakter Islam. Pengarahan dan penyaringan yang disengaja terbukti penting untuk mengoptimalkan lagu sebagai media yang dapat beradaptasi secara kontekstual di lingkungan sekolah menengah Islam.
Copyrights © 2026