Rendahnya minat literasi anak-nak serta minimnya integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran menjadi permasalahan yang banyak ditemui di wilayah pedesaan, termasuk di Desa Wisata Hanjeli, RT.10/RW.2, Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat,. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Gerakan Literasi Multigenerasi berbasis kearifan lokal hanjeli sebagai model pemberdayaan masyarakat yang menyasar berbagai kelompok usia, mulai dari anak usia dini hingga dewasa. Kegiatan dilaksanakan melalui tiga program utama, yaitu Gerakan Literasi Hanjeli (GLH) bagi anak PAUD dan SD, Edukasi Literasi Digital bagi siswa SMP/MTs dan SMA/SMK, serta Pelatihan Merajut bagi ibu-ibu setempat. Metode yang digunakan adalah deskriptif-partisipatif dengan teknik pelatihan dan pendampingan (training and mentoring), yang dilaksanakan melalui tiga tahap: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mayoritas anak pada program GLH sudah mampu membaca dengan lancar, meski sebagian anak SD kelas 2 masih membaca terbata-bata dan memerlukan pendampingan tambahan, dengan kehadiran rutin sekitar 18 anak per sesi; kegiatan Edukasi Literasi Digital berhasil menjangkau 50 hingga 55 siswa perwakilan sekolah SMP/MTs dan SMA/SMK di wilayah Desa Waluran dengan antusiasme tinggi terhadap materi kepemimpinan digital, personal branding, dan pemanfaatan AI secara bijak; serta Pelatihan Merajut menghasilkan pemahaman ibu-ibu terhadap alat dan bahan dasar merajut, dengan sebagian peserta telah menguasai teknik dasar rantai. Model ini menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal ke dalam program literasi lintas usia dapat menjadi strategi efektif dalam pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan dan berkarakter lokal.