Abstrak Perkembangan teknologi kecerdasan buatan mendorong kebutuhan program literasi AI berskala nasional yang terkelola secara efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan manajemen komunikasi dan koordinasi operasional dalam pelaksanaan Program Literasi Kecerdasan Buatan pada sebuah lembaga pelatihan di Indonesia yang mengelola target 9.000 peserta secara nasional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, partisipasi aktif, dan studi literatur. Data diperoleh dari lima informan yang merepresentasikan berbagai lapisan organisasi, meliputi project leader, staf operasional, event organizer, dan peserta program. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, diperkuat dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen komunikasi diterapkan melalui technical meeting, WhatsApp Group sebagai platform utama, sistem PIC sebagai penghubung informasi antarwilayah, serta evaluasi berbasis KPI dan pendekatan Kirkpatrick Level 3. Koordinasi operasional dijalankan melalui tracking jadwal harian, pemantauan LMS, pengelolaan kuota peserta per batch, dan mekanisme follow up aktif. Kedua aspek tersebut berkontribusi langsung terhadap pencapaian target peserta dan peningkatan literasi kecerdasan buatan di masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan standardisasi sistem komunikasi dan penguatan peran koordinator wilayah pada program serupa berskala nasional. Kata Kunci: manajemen komunikasi, literasi AI, koordinasi operasional, program pelatihan, organisasi Abstract The rapid development of artificial intelligence technology has driven the need for effectively managed national-scale AI literacy programs. This study aims to analyze the implementation of communication management and operational coordination in the AI Literacy Program at a training institution in Indonesia managing a national target of 9,000 participants. The study employs a descriptive qualitative approach, collecting data through semi-structured interviews, observation, active participation, and literature review. Data were obtained from five informants representing various organizational layers, including a project leader, operational staff, regional coordinator, event organizer, and program participant. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman model through stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing, strengthened by source triangulation. The results show that communication management is implemented through technical meetings, WhatsApp Group as the primary platform, a PIC system as an information liaison across regions, and KPI-based evaluation using the Kirkpatrick Level 3 approach. Operational coordination is carried out through daily schedule tracking, LMS monitoring, per-batch participant quota management, and active follow-up mechanisms. Both aspects directly contribute to achieving participant targets and improving AI literacy in society. This study recommends standardizing communication systems and strengthening the role of regional coordinators in similar national-scale programs. Keyword: communication management, AI literacy, operational coordination, training program, organization