Penelitian ini mengkaji representasi coercive control (kontrol koersif) dan relasi kuasa dalam memoar Broken Strings karya Aurélie dengan menerapkan teori coercive control dari Evan Stark dan teori feminis tentang cinta serta dominasi dari bell hooks. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk coercive control yang dialami korban serta menganalisis bagaimana dominasi dinormalisasi melalui hubungan romantis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik close reading dan analisis tekstual terhadap beberapa kutipan terpilih dari memoar tersebut. Analisis ini mengacu pada teori Evan Stark (2007) yang menjelaskan bahwa dalam sebuah hubungan sering terdapat relasi antara pihak dominan dan subordinat, serta konsep cinta, patriarki, dan dominasi yang dikembangkan oleh bell hooks (2000), yang menjelaskan bahwa banyak hubungan romantis dalam masyarakat sebenarnya tidak dibangun atas dasar cinta yang sehat dan setara, melainkan atas dominasi, kontrol, dan relasi kuasa. Hasil penelitian menunjukkan adanya tujuh bentuk coercive control yang dialami oleh Aurélie, yaitu manipulasi emosional, isolasi, intimidasi, dominasi, ketergantungan, victim-blaming (menyalahkan korban), serta pengawasan/kontrol. Bentuk-bentuk kontrol ini secara sistematis dilakukan oleh Bobby untuk membatasi otonomi Aurélie, mengurangi interaksi sosialnya, dan menciptakan ketergantungan psikologis. Analisis menunjukkan bahwa coercive control tidak hanya bergantung pada kekerasan fisik, tetapi juga beroperasi melalui tekanan emosional, rasa takut, manipulasi, dan pemantauan terus-menerus terhadap kehidupan sehari-hari korban. Akibatnya, korban secara bertahap kehilangan rasa percaya diri, kemandirian, serta kemampuan untuk mengambil keputusan secara bebas. Lebih lanjut, penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku mengontrol dan posesif berulang kali direpresentasikan sebagai bentuk cinta dan perhatian. Melalui manipulasi emosional dan ekspektasi patriarkal, tindakan Bobby dinormalisasi dan ditafsirkan oleh Aurélie sebagai bukti kasih sayang, bukan sebagai bentuk kekerasan. Temuan ini mendukung argumen bell hooks bahwa budaya patriarki sering menyamakan cinta dengan kepemilikan, kontrol, dan dominasi. Akibatnya, korban mengalami kesulitan untuk mengenali sifat abusif dari hubungan tersebut dan menjadi semakin bergantung pada pelaku