Liturgi Sabda merupakan bagian penting dalam kehidupan iman Gereja karena melalui pewartaan Sabda Allah, umat beriman berjumpa dengan Allah sekaligus memperoleh pembinaan dan penguatan dalam iman. Dalam perayaan Liturgi Sabda, partisipasi umat beriman tidak hanya diwujudkan melalui mendengarkan bacaan Kitab Suci, menjawab doa-doa, dan mengikuti nyanyian, tetapi juga melalui simbol-simbol liturgis, termasuk gerak tubuh. Berdiri, duduk, membungkuk, membuat tiga tanda salib kecil sebelum pewartaan Injil, melipat tangan, serta mempertahankan sikap tubuh yang khidmat dan penuh perhatian merupakan bentuk pengungkapan iman yang memiliki makna spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran dan makna simbol gerak tubuh dalam perayaan Liturgi Sabda, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman dan penghayatan umat beriman terhadap simbol-simbol tersebut, serta mengetahui upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penghayatan terhadap gerak tubuh demi pertumbuhan iman umat beriman di Stasi Sta. Maria Goreti Labat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Partisipan penelitian terdiri atas delapan informan, yang terdiri dari enam informan utama dan dua informan tambahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol gerak tubuh dipahami oleh umat beriman sebagai ungkapan penghormatan kepada Allah, kesiapsediaan untuk mendengarkan Sabda, kerendahan hati, penyerahan diri, dan keterbukaan terhadap kehendak Allah. Namun, sebagian umat beriman masih melakukan gerak tubuh liturgis hanya sebagai kebiasaan tanpa memahami secara mendalam makna spiritualnya. Faktor-faktor yang mendukung penghayatan terhadap gerak tubuh tersebut meliputi pengaruh keluarga, pembinaan Gereja, keterlibatan dalam pelayanan liturgi, kesadaran pribadi, dan suasana liturgi yang kondusif. Sementara itu, faktor-faktor penghambat meliputi kecenderungan melakukan gerak tubuh secara otomatis, keterbatasan pembinaan liturgi, dan rendahnya minat membaca. Oleh karena itu, diperlukan katekese dan pembinaan liturgi secara berkelanjutan, praktik langsung dalam perayaan liturgi, penguatan peran orang tua, peningkatan keterlibatan Orang Muda Katolik (OMK), serta penciptaan suasana liturgi yang tertib dan kondusif. Dengan demikian, simbol gerak tubuh tidak hanya menjadi kebiasaan lahiriah semata, tetapi sungguh-sungguh dapat menjadi ungkapan iman yang membantu umat beriman untuk berpartisipasi secara sadar, aktif, dan bermakna dalam Liturgi Sabda.