Hayani Hayani
Universitas Serelo Lahat, Sumatera Selatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

CAN READINESS TRANSLATE GREEN FINANCE INTO BEHAVIOR? FINANCIAL CAPABILITY, INSTITUTIONS, AND COOPERATIVE RELATIONAL CAPACITY Tri Rusilawati Kasisariah; Hayani Hayani; Rahmat Teguh Haryadi; Dhistianti Mei Rahmawantari; Rosdiana Rosdiana
JAMBURA: Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis Vol 9, No 2 (2026): JIMB - VOLUME 9 NOMOR 2 SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37479/jimb.v9i2.41332

Abstract

Bukti empiris mengenai keterkaitan kapabilitas keuangan, dukungan kelembagaan, dan kapasitas relasional dengan perilaku keuangan hijau melalui kesiapan masih terbatas pada organisasi pangan berbasis anggota. Berfokus pada koperasi dan kelompok usaha pangan berbasis anggota di Palembang, Banyuasin, dan Ogan Ilir, analisis membedakan Green Finance Readiness (GFR) dari Green Financial Behavior (GFB). Survei cross-sectional terhadap 151 responden yang memenuhi kriteria mengukur Financial Management Capability (FMC), Policy and Institutional Support (PIS), Cooperative Relational Capacity (CRC), GFR, dan GFB, dengan hubungan antarkonstruk diestimasi menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS SEM). Kapabilitas keuangan menunjukkan hubungan estimasi yang lebih besar dengan GFR, sementara dukungan kelembagaan tetap berhubungan positif dengan kesiapan. GFR berhubungan positif dengan GFB dan membawa efek tidak langsung positif FMC dan PIS terhadap GFB, sedangkan CRC berhubungan positif dengan GFB, yang menegaskan relevansi pertukaran informasi, kepercayaan, dan kerja sama dalam keputusan keuangan organisasi berbasis anggota. Namun, nilai HTMT dan kolinearitas prediktor yang tinggi menunjukkan lemahnya pemisahan empiris antarkonstruk, terutama antara GFR dan GFB, sehingga klaim mengenai mekanisme yang terpisah dan urutan temporal perlu dibatasi. Temuan menempatkan green finance readiness sebagai penghubung konseptual antara kondisi finansial dan kelembagaan dengan perilaku keuangan hijau, sementara kapasitas relasional menambahkan dimensi berbasis anggota. Green finance pada koperasi pangan dapat dipahami sebagai persoalan pembiayaan yang berkaitan dengan kesiapan organisasi dan koordinasi relasional, dengan kebutuhan pengukuran yang lebih tegas untuk membedakan kesiapan dari perilaku keuangan.
WHAT MAKES SUSTAINABILITY BELIEVABLE ONLINE? MESSAGES, COMMUNITY CUES, GREEN TRUST, AND VISIT INTENTION Hayani Hayani; Tri Rusilawati Kasisariah; Wiwik Rachmarwi; Diajeng Reztrianti; Andi Juanna
JAMBURA: Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis Vol 9, No 2 (2026): JIMB - VOLUME 9 NOMOR 2 SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37479/jimb.v9i2.41331

Abstract

Studi ini menguji bagaimana pesan keberlanjutan dan keterlibatan komunitas yang terlihat dalam konten digital destinasi berkaitan dengan green trust dan visit intention wisatawan. Berfokus pada destinasi berbasis komunitas di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, studi ini membedakan sustainability communication dari community-based sustainability cues sebagai dua atribut perseptual yang berbeda dalam konten digital yang sama. Survei daring menghasilkan 200 respons yang dapat dianalisis dari wisatawan domestik dan calon wisatawan setelah mereka melihat konten destinasi yang sama. PLS-SEM menguji jalur tidak langsung melalui green trust sekaligus mengestimasi hubungan langsung sustainability communication dan community-based sustainability cues dengan visit intention. Kedua atribut digital tersebut berhubungan positif dengan green trust dan visit intention, sedangkan green trust juga berhubungan positif dengan visit intention. Jalur tidak langsung yang signifikan melalui green trust menghubungkan sustainability communication dan community-based sustainability cues dengan visit intention. Namun, hubungan langsung kedua atribut dengan visit intention tetap signifikan setelah green trust dimasukkan ke dalam model, yang menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan jalur penting tetapi bukan satu satunya mekanisme yang menghubungkan konten keberlanjutan digital dengan kecenderungan perilaku wisatawan. Studi ini karena itu memosisikan komunikasi keberlanjutan yang dapat dipercaya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar pesan persuasif: kredibilitas juga bergantung pada cue keterlibatan komunitas yang terlihat, yang memberi landasan sosial pada klaim keberlanjutan dan menghubungkan apa yang dikomunikasikan destinasi dengan bagaimana partisipasi masyarakat lokal direpresentasikan secara daring.