Sepak bola di Indonesia tidak hanya menjadi hiburan melainkan arena manifestasi penyimpangan sosial yang kompleks, namun kajian mendalam tentang fenomena ini di kota menengah Indonesia Timur masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk penyimpangan sosial, menganalisis faktor-faktor penyebab, dan memahami mekanisme reproduksi perilaku menyimpang dalam sepak bola di Kota Baubau. Metode kualitatif dengan desain studi kasus digunakan melalui wawancara mendalam terhadap 15 partisipan meliputi suporter, pemain, ofisial pertandingan, pengurus klub, dan perwakilan PSSI, yang dianalisis secara tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi lima kategori penyimpangan: kekerasan verbal, kekerasan fisik, penyimpangan perilaku suporter, ujaran kebencian digital, dan manipulasi pertandingan. Tujuh faktor fundamental berkontribusi meliputi identitas kolektif dan rivalitas territorial, minimnya pengawasan, pengaruh alkohol, tekanan sosio-ekonomi, rendahnya literasi digital, ketiadaan pembinaan terstruktur, dan normalisasi kekerasan intergenerasi. Mekanisme reproduksi berlangsung melalui social learning, penguatan identitas kelompok, ritualisasi kekerasan, lemahnya sanksi hukum, dan amplifikasi emosi kolektif. Penelitian menyimpulkan bahwa sepak bola lokal telah bertransformasi menjadi arena agresivitas kolektif yang mengancam nilai kemanusiaan. Diperlukan intervensi holistik mencakup program pembinaan suporter, penguatan infrastruktur keamanan, penegakan sanksi tegas, kampanye anti-kekerasan, dialog antar-komunitas, dan pengembangan sepak bola berbasis komunitas untuk mentransformasi olahraga ini kembali menjadi sarana pemersatu masyarakat yang menjunjung sportivitas.Football in Indonesia serves not only as entertainment but also as an arena for complex social deviance manifestation, yet in-depth studies of this phenomenon in medium-sized cities in Eastern Indonesia remain very limited. This research aims to identify forms of social deviance, analyze causal factors, and understand the reproduction mechanisms of deviant behavior in football in Baubau City. Qualitative methods with a case study design were employed through in-depth interviews with 15 participants including supporters, players, match officials, club administrators, and PSSI representatives, analyzed thematically. Research findings identified five deviance categories: verbal violence, physical violence, supporter behavioral deviance, digital hate speech, and match manipulation. Seven fundamental factors contribute including collective identity and territorial rivalry, lack of supervision, alcohol influence, socio-economic pressure, low digital literacy, absence of structured coaching, and intergenerational violence normalization. Reproduction mechanisms operate through social learning, ingroup identity reinforcement, violence ritualization, weak legal sanctions, and collective emotion amplification. The research concludes that local football has transformed into an arena of collective aggression threatening humanitarian values. Holistic interventions are required including supporter development programs, security infrastructure strengthening, strict sanction enforcement, anti-violence campaigns, inter-community dialogue, and community-based football development to transform this sport back into a unifying means of society upholding sportsmanship.