Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MILIKKU, MILIKMU, DAN MILIK-NYA: INTERNALISASI KECERDASAN SPIRITUAL DALAM PAI UNTUK MENGATASI PERILAKU GHASAB BARANG DI LINGKUNGAN PESANTREN Yulia Maulida Yulia; Rika Sartika Rika
TARBIYAH DARUSSALAM: JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN DAN KEAGAMAAN Vol. 10 No. 02 (2026): Tarbiyah Darussalam : Jurnal Ilmiah Kependidikan dan Keagamaan (In Progress)
Publisher : Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58791/tadrs.v10i02.925

Abstract

Pena teman hilang, penggaris berpindah tangan, sendal berganti pakai, seragam sekolah tertukar dan tidak kembali. Kejadian kecil ini sering dianggap wajar di lingkungan pesantren, padahal termasuk perilaku ghasab, yaitu memakai atau mengambil barang orang lain tanpa izin. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat tumbuh menjadi sikap tidak jujur dan tidak peduli terhadap hak orang lain hingga dewasa. Masalah yang dibahas tulisan ini ada tiga: bagaimana bentuk dan penyebab perilaku ghasab barang di lingkungan pesantren,  bagaimana konsep kepemilikan dalam Islam, yaitu milikku, milikmu, dan milik Allah, dapat menjelaskan akar masalah ghasab,  dan bagaimana kecerdasan spiritual dapat diinternalisasikan melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk mengatasi perilaku tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pola ghasab barang di lingkungan pesantren, merumuskan kerangka kepemilikan dalam pandangan Islam sebagai pisau analisis, dan merumuskan model internalisasi kecerdasan spiritual dalam pembelajaran PAI. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study) di Pesantren Ibnu Atha’illah. Data digali melalui observasi langsung dan wawancara mendalam dengan santri,  ustadzah pengampu PAI, serta pengasuh pesantren, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ghasab barang di lingkungan pesantren bukan hanya persoalan kedisiplinan, melainkan cermin lemahnya kesadaran tentang batas hak milik pribadi, hak milik sesama, dan hak Allah atas segala sesuatu. Kebaruan (novelty) penelitian ini adalah tawaran Model Segitiga Kepemilikan Spiritual, yaitu kesadaran milikku (tanggung jawab menjaga hak pribadi), kesadaran milikmu (menghormati hak sesama), dan kesadaran milik-Nya (menyadari segala sesuatu adalah amanah Allah), sebagai kerangka internalisasi kecerdasan spiritual dalam PAI untuk mengatasi perilaku ghasab barang di lingkungan pesantren.