Silfester Siga Ngole
Universitas Katolik Santo Thomas, Medan, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pembinaan Spiritualitas Kebebasan dan Tanggung Jawab Moral Bagi Novis FCJM dalam Membangun Kedewasaan Iman dan Kehidupan Religius Gonti Simanullang; Silfester Siga Ngole; Jusling Garamba; Ludovikus Lelan
Jurnal Pengabdian Masyarakat Nauli Vol. 2 No. 2 (2024): Februari, Jurnal Pengabdian Masyarakat Nauli
Publisher : Marcha Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/nauli.v2i2.409

Abstract

Kebebasan dan tanggung jawab moral merupakan dua unsur yang saling berkaitan dalam pembentukan kedewasaan iman dan identitas hidup religius. Pada masa novisiat, pemahaman kebebasan yang tidak terintegrasi dengan hati nurani, ketaatan, dan tanggung jawab dapat memunculkan sikap individualistis, disiplin yang bersifat eksternal, serta kesulitan dalam mengambil keputusan moral. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan memperkuat spiritualitas kebebasan dan tanggung jawab moral bagi Novis FCJM di Novisiat Greccio Pematangsiantar. Program menggunakan pendekatan edukatif, pastoral, partisipatif, reflektif, dan kontekstual melalui seminar, pendalaman Kitab Suci, studi kasus moral, sharing kelompok, refleksi pribadi, pendampingan spiritual, dan penyusunan komitmen. Evaluasi dirancang melalui pre-test dan post-test, observasi partisipasi, lembar refleksi, wawancara pembina, serta monitoring pascakegiatan. Draf hasil menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari 52,6 menjadi 86,6 pada aspek makna kebebasan, tanggung jawab moral, pembentukan hati nurani, ketaatan dan disiplin, serta kedewasaan iman. Capaian kualitatif tampak pada meningkatnya kemampuan peserta membedakan kebebasan dari sikap sewenang-wenang, mempertimbangkan konsekuensi tindakan, menerima aturan komunitas sebagai sarana pertumbuhan, serta merumuskan keputusan yang berorientasi pada kebaikan bersama. Program menunjukkan bahwa pembinaan moral menjadi lebih efektif ketika ajaran Gereja dihubungkan dengan pengalaman, dilema konkret, refleksi, dan pendampingan berkelanjutan.