Mustofa Hilmi
UIN Walisongo Semarang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE TATHWIR DA’WAH PARADIGM: ALTRUISM AS THE BEHAVIORAL MECHANISM OF EQUITABLE HALAL TOURISM GOVERNANCE IN AN INDONESIAN MUSLIM COMMUNITY Ahmad Hidayatullah; Fajriatul Mustakharoh; Shochifah Diyah Puspitasari; Mustofa Hilmi; Kharisma Shafrani
J-MD Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 7 No. 1 (2026): JMD
Publisher : Program Studi Manajemen Dakwah, FUAD, IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/sngjvz80

Abstract

Purpose: This study examines how the tathwir da’wah (development and empowerment) paradigm is enacted through altruistic practices in Dieng Kulon Village, Indonesia, to support equitable and Sharia-compliant tourism governance amid concerns over tourism revenue leakage to external investors. Design/methodology/approach: A qualitative case study was conducted using semi-structured interviews with homestay owners, POKDARWIS officials, and religious leaders, supported by non-participant observation and document analysis. Data were analyzed thematically using the tathwir da’wah, community empowerment, and social solidarity perspectives. Findings: Altruism translates Islamic values of honesty, justice, and compassion into collective governance practices, including restrictions on land sales to outsiders, profit-sharing cross-marketing among Sharia homestays, and adherence to Sharia hospitality standards despite potential short-term profit reductions. These practices are reinforced by communal land tenure and social solidarity rooted in kinship and local identity, helping limit investor-driven economic leakage. Research limitations/implications: As a single-village qualitative study, its transferability should be examined through comparative and quantitative research in communities with different social and land-tenure structures. Practical implications: The Dieng Kulon model offers a community-based governance framework for values-driven and locally controlled tourism development, with relevance for POKDARWIS groups and local tourism policy. Originality/value: This study integrates the tathwir da’wah paradigm, altruism, and social solidarity into an explanatory model of halal tourism governance, extending da’wah management scholarship into debates on tourism inequality.
Jurnalisme Profetik: Respon Perguruan Tinggi Menjawab Tantangan Dakwah di Era Digital Najahan Musyafak; Silvia Riskha Fabriar; Mustofa Hilmi
MEDIOVA: Journal of Islamic Media Studies Vol. 3 No. 2 (2023): THIRD EDITION - NO 2
Publisher : Prodi Jurnalistik Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/medio.v3i2.3673

Abstract

Dakwah Islam bersifat dinamis yang secara konseptual dan praksis dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi informasi yang sudah memasuki era digital. Era digital ditandai dengan masifnya penggunaan media baru dalam menyebarluaskan informasi dalam dakwah Islam. Sejalan dengan hal tersebut, perguruan tinggi keagamaan Islam telah merespons perubahan yang terjadi dengan membuka program studi jurnalistik Islam dalam upaya perluasan, penajaman dan penguatan kelembagaan. Studi-studi mengenai jurnalistik Islam setidaknya dapat dipetakan ke dalam tiga kelompok. Pertama, kajian jurnalistik Islam yang fokus pada isu, peristiwa dan fenomena yang berkaitan dengan nilai keislaman; Kedua, studi yang menitikberatkan pada cara dan metode Islami dalam kegiatan jurnalistik; dan ketiga, studi yang memberikan perhatian pada prinsip-prinsip Islam sebagai dasar kegiatan jurnalistik. Studi ini bertujuan untuk melengkapi kekurangan dari studi-studi terdahulu yang kurang memberikan perhatian pada pembahasan jurnalistik Islam secara komprehensif mencakup konsepsi jurnalistik Islam berdasarkan pada nilai-nilai kenabian (profetik). Studi ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif yang disandarkan pada data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui teknik Focus Group Discussion yang melibatkan pemangku kepentingan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam serta program studi di Jurnalistik Islam PTKIN Indonesia, dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, praktisi jurnalistik dan media, alumni, dan mahasiswa. Sementara itu, data sekunder digali melalui naskah akademik dan kurikulum, dokumen kebijakan berupa SK Dirjen, SK Rektor; berbagai regulasi digital, penyiaran, dan jurnalistik; serta berbagai hasil penelitian tentang jurnalistik Islam baik berupa buku ataupun situs internet. Studi ini menemukan bahwa terjadi perbedaan respons di antara perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Agama dalam mengintegrasikan nilai-nilai kenabian (profetik) dalam kurikulum jurnalistik Islam sebagai distingsi setiap program studi.