Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan serius pada remaja putri karena meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pubertas. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi anemia pada semua kelompok usia perempuan di Indonesia mencapai 18%. Pemerintah telah menjalankan program untuk menangani masalah anemia, tetapi belum berjalan optimal sehingga perlu pendampingan khususnya gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendampingan gizi terhadap perubahan konsumsi tablet tambah darah (TTD) dan kadar hemoglobin (Hb) pada remaja putri di SMP Muhammadiyah 1 Godean. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan pre-experimental menggunakan desain one group pretest-posttest. Responden penelitian sebanyak 28 orang yang dihitung berdasarkan formula paired t-test dan dipilih menggunakan teknik random sampling untuk jumlah total per kelas, sedangkan purposive sampling untuk setiap kelasnya serta adanya kriteria inklusi dan ekslusi. Data pendampingan gizi berupa intervensi melalui edukasi klasikal dan pemberian infografis via WhatsApp setiap 3 minggu sekali selama 9 minggu. Output pendampingan gizi yaitu skor pengetahuan anemia sebelum dan sesudah. Data konsumsi TTD diambil menggunakan kuesioner konsumsi TTD dalam 1 bulan terakhir dan data kadar Hb menggunakan alat Easy Touch Hb sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rerata kadar Hb pada remaja putri sesudah pendampingan gizi sebesar 13,81 ± 1,4424 g/dL. Prevalensi konsumsi TTD yang tidak patuh juga meningkat menjadi 82,1%. Rerata skor pengetahuan pada remaja putri mengalami penurunan menjadi 61,79 ± 19,2553. Pendampingan gizi pada remaja putri memiliki pengaruh terhadap konsumsi TTD (p = 0,0150) dan kadar Hb (p = 0,0025).